TOXIC PRODUCTIVITY

by Siti Nurul Hikmah

Siswaindonesia.com, Malang – bermalas-malasan tentu bukan hal yang baik untuk dilakukan sehari-hari. Banyak artikel yang menulis tentang bagaimana cara menghilangkan rasa malas serta menaikkan tingkat produktifitas. Namun tahukah kamu bahwa kegiatan positif seperti tingkat produktifitas yang tinggi juga bukan hal baik yang bisa dilakukan sehari-hari? Pada artikel kali ini, akan dijelaskan mengapa hal positif pun bisa berakibat buruk dan berujung pada hal yang negatif.

 

Segala kegiatan yang dilakukan secara berlebihan memang tidak baik, begitu pula dengan hal-hal yang dinilai sebagai kegiatan yang positif seperti produktifitas yang tinggi. menjadi seseorang yang produktif memang baik, namun ketika hal tersebut dilakukan secara berlebihan maka hal ini akan berdampak buruk bagi diri sendiri. “Kok bisa?”. Produktifitas yang dilakukan secara berlebihan sering kali juga disebut sebagai Toxic productivity. Toxic Productivity merupakan suatu keadaan dimana ketika tingkat produktifitas seseorang melebihi batas wajar atau batas kemampuaanya sehinggia menimbulkan dampak yang buruk. Seseorang yang mengalami tocix productivity akan merasa bersalah, dan cenderung menyalahkan diri sendiri jika tidak melakukan sesuatu. Selain itu, mereka akan terus menerus mencari kegiatan tanpe mengenal waktu, demi menghindari perasaan bersalah itu tadi.

 

Lalu apakah toxic positivity sama dengan workaholic? Meski tidak jauh berbeda, namun faktanya kedua hal tersebut tidak bisa dikatakan sama. Toxic positivity berasal dari cara berfikir yang keliru. Hal tersebut merupakan suatu mindset dimana seseorang merasa wajib dapat menghasilkan sesuatu, mentargetkan dirinya harus berkembang. Lalu dimana letak toxicnya? Dapat dikatakan tocix ketika kamu tidak pernah mau berhenti dan istirahat, ketika tidak menghasilkan sesuatu kamu cenderung gelisah dan menyalahkan diri sendiri. Terlebih lagi ketika kamu melihat postingan di media sosial milik temanmu yang telah mendapatkan pencapaian, kamu akan semakin menyalahkan diri sendiri dan cenderung gelisah. Lalu bagaimana dengan workaholic?Workaholicsendiri adalah suatu kedaan dimana kamu sangat menyukai pekerjaan yang kamu lakukan. Rasa suka yang berlebihan tersebut membuatmu bekerja hingga lupa waktu dan mengesampigkan kesehatan serta hubungan dengan orang lain. Meski keduanya saling berhubungan, namun sebenarnya tetap berbeda.

 

Tocix positivity dapat dialami siapa saja tanpa memandang umur. Bahkan seeorang pelajar pun seringkali mengalami, terlebih jika kamu termasuk siswa yang ambis untuk bisa mendapatkan nilai memuaskan. Apakah salah jika seorang siswa menginginkan nilai terbaik? Tentu tidak. Namun jika untuk mendapatkan nilai yang memuaskan kamu harus mengorbankan banyak hal termasuk kesehatan, sepatutnya kamu harus mulai waspada ya. Jangan sampai kebiasaan ambis ini membuatmu terjebak dalam lingkaran setan yang tidak sehat. Untuk itu kamu harus tahu, apa saja ciri-ciri dari toxic productivity.

 

  1. Merasa bersalah ketika tidak beraktifitas

Tanda dari seseorang yang mengalami toxic productivity adalahketika ia seringkali menyalahkan diri sendiri jika tidak melakukan sesuatu, sekalipun untuk beristirahat sejenak.

  1. Tidak pernah merasa puas

Memiliki semangat yang tinggi dan tidak mudah merasa puas memang bagus, namun ketika hal tersebut dilakukan secara berlebihan, maka bisa jadi kamu sedang mengalami toxic productivity. Seseorang yang sedang mengalami gangguan ini, tidak pernah merasa puas, selalu ingin melakukan hal yang lebih. Padahal secara tidak ia sadari, selama ini ia telah melakukan banyak hal melebihi dari target nya.

  1. Memiliki ekspetasi yang tinggi

Mentargetkan sesuatu perlu dipikirka secara matang. Memiliki mimpi atau target yang tinggi tentu tidak salah. Namun perlu sesuai dengan realitanya. Jika memiliki target yang berlebihan, hal ini dapat memicu toxic productivity. Pasalnya melakukan banyak hal tanpa istirahat demi mengejar target tersebut.

  1. Menolak istirahat

Bagi orang yang mengalami toxic productivity, kata istirahat adalah sesuatu hal yang dihindari. Sekalipun saat ia memerlukan untuk beristirahat, ia tetap menolak. Baginya, istirahat adalah hal yang membuang-buang waktu dan cenderung orang yang pemalas.

 

Dari ciri-ciri diatas yang telah disebutkan, pernahkah kamu mengalaminya? Jika ia, maka kamu perlu berhati-hati ya. Sebab hal ini bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan. Jika dibiarkan berlarut-larut, maka akan berpengaruh pada psikis mu nantinya. beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meminimalisirnya adalah dengan membuat aturan waktu produktif, selalu sisihkan waktu untuk beristirahat sejenak, menentukan target yang sesuai dengan realitas serta jangan lupa untuk memberikan reward dari usaha kerja kerasmu selama ini.

You may also like

Leave a Comment