Toxic Positivity, Pikiran positif yang ternyata negative

by Anisa Mahiswari

SiswaIndonesia.com, Malang – Pernah nggak sih kamu mendapat semangat tetapi ucapan itu malah membuatmu tidak baik? Keadaan seperti ini biasa disebut dengan toxic positivity. Sebelumnya apa kamu pernah mendengar istilah ini? jika belum maka hari ini siswaindonesia akan mebmbahas tentang toxic positivity.

Menurut satupersen.net Toxic Positivity adalah kebiasaan yang membuat kamu selalu melihat suatu kondisi dari sisi positif apapun keadaannya, dimana pikiran negatif dalam dirimu berusaha untuk dihilangkan atau dimatikan dengan saran yang membangun seperti di atas. Padahal, tak jarang kamu malah akan semakin kesal dan muak ketika mendengarkan saran tersebut.

Dengan penjelasan diatas istilah ini memang seperti sebuah paradoks karena seolah sebuah lontaran positif beradu dengan emosi negatif, sehingga menjadi racun bagi mereka yang menerimanya. Kadang di suatu kondisi seseorang tidak membutuhkan petuah yang positif untuk membawa dirinya keluar dalam persoalan yang sedang dihadapinya.

Orang yang sedang memiliki sebuah masalah memang perasaanya mudah rapuh karena pikiran dan hatinya sedang tidak tenang. Ketika hal ini terjadi salah satu cara yang sering dilakukan adalah menceritakan masalah tersebut kepada orang lain agar menemukan solusi akan masalah yang sedang dihadapi. Tetapi setelah menceritakan keluh kesahnya kepada orang lain tidak jarang si pendengar mengucapkan hal ini “Kamu harus tetap positif! Diluar sana masih banyak yang nggak seberuntung kamu!” kalimat ini sudah tidak asing lagi bukan di telinga kalian?  Alih-alih mendapat dukungan, tak jarang balasan yang didapat justru malah memaksa kamu untuk menyembunyikan emosi negatif tersebut. Tapi sadar atau tidak mungkin kamu juga pernah melakukannya?

Perilaku seperti inilah yang akhirnya membuat  mereka yang sedang memiliki masalah akan menjadi lebih larut dalam emosi negatif ketika diberi dukungan dengan kalimat-kalimat positif yang tidak tepat. Hal tersebut dapat terjadi karena orang yang sedang memiliki masalah cenderung ingin dimengerti, tak cukup diberi simpati melainkan perlu ditunjukkan empati.

Melansir dari tirto.id  Dalam penjelasan mengenai toxic positivity, Urban Dictionary menyebut bahwa kalimat seperti “Kalau kamu tetap positif, kamu akan mengatasi segala kesulitan yang ada” mengabaikan perasaan sesungguhnya dari orang yang sedang bermasalah, seolah-olah perasaan negatif yang dialami dan ingin diungkapkan orang tersebut tidak penting bagi lawan bicaranya.

Kontras dengan ucapan-ucapan seperti disebut di atas, Jiemi menyuguhkan contoh-contoh ucapan yang lebih menunjukkan empati untuk diucapkan kepada orang-orang yang dirundung musibah.

Mengapa dorongan “be positive” bisa berdampak negatif? “

Tidak semua orang butuh disemangati saat mereka bercerita soal perasaan negatif atau pengalaman buruknya,” papar Jiemi. “Sering kali, yang di sekeliling mereka mengatakan hal-hal yang seakan-akan positif, padahal bukan itu yang sedang dibutuhkan orang yang bermasalah.”

Lebih lanjut, ia memaparkan setiap emosi itu punya pesan, baik itu marah, rasa jijik, sedih, bahagia, atau takut. Kalau emosi-emosi itu disangkal atau dipendam demi terus terlihat positif atau bahagia di depan orang-orang, yang ada emosi negatifnya menumpuk, kemudian bisa memicu stres dan sakit psikis serta fisik alias psikosomatis.

Saran-saran yang kamu terima akan diolah oleh otak dan akan memakasamu untuk selalu berpikir positif terhadap berbagai situasi. Hal ini sesungguhnya kurang baik untuk mentalmu karena secara tidak sadar kamu akan terhipnotis dengan saran yang diberikan  sehingga akan berdampak kepada kinerja otakmu yang akan merespon suatu masalah mungkin akan menjadi baik-baik saja. Hal ini cepat atau lambat bisa mematikan respon kewaspadaanmu terhadap situasi atau kondisi buruk yang akan menimpamu.

Menurut Wood et.al (2009) dalam jurnalnya Psychological Science mengatakan bahwa memberikan kata-kata positif ke lawan bicara yang sedang terkena masalah dapat membuat lawan bicara merasa tidak dihargai dan dinilai sebagai sikap meremehkannya.

Maka dengan itu salah satu cara agar kamu terhidar dari toxic positivity adalah dengan menerima emosi negatif. Tak selamanya kehadiran emosi negatif buruk. Emosi tersebut justru dapat membantu kamu untuk mengatasi masalah dan menemukan jalan keluar. Karena dengan adanya emosi negative kamu akan berusaha agar permasalahan yang kamu hadapi bisa segera terselsaikan, hal ini juga menambah pengalaman dan menjadi pelajaran yang baik untuk dirimu sendiri.

You may also like

Leave a Comment