OPINI: Sekolah Inklusi Jalan Keluar bagi ABK Mengenyam Pendidikan

by Siti Nurul Hikmah

(Sumber: Google.com)

SiswaIndonesia.id, Malang – Salah satu poin utama dalam menjadikan tata negara lebih baik adalah melalui pendidikan. Dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan kunci kemajuan suatu negara. Tidak ada negara yang maju tanpa didukung pendidikan yang kuat. Masyarakat yang mandiri, maju, sejahtera dan bebas dari kemiskinan dapat terbentuk melalui pendidikan. Bukan lagi perkara seberapa kaya sumber daya negara kita hingga bisa disegani negara-negara lain, namun seberapa tinggi kualitas pendidikan lah yang menentukan negara kita di mata negara-negara diluar sana.

Usaha pemerintah dalam memperbaiki mutu pendidikan cukup diapresiasi, dengan memberikan pendidikan gratis 12 tahun. Seperti yang kita ketahui, bahwasannya tidak semua orang memiliki pendapatan yang sama tinggi, hingga mengakibatkan banyaknya anak-anak tidak bisa bersekolah hanya karena terlilit masalah biaya. Dilahirkannya manusia tentu ada hak hidup yang melekat pada setiap individu, begitupun dengan hak memperoleh pendidikan. Hal tersebut sesuai dengan Undang-undang Hak Asasi Manusia (UU No.39 Tahun 1999) “Setiap anak berhak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya sesuai dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasannya”.

Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, tentu dibutuhkannya usaha pemerataan program pendidikan, tanpa adanya diskriminasi. Pemerataan pendidikan bukan hanya soal si kaya dan si miskin, pendidikan di pusat kota dan di pelosok negeri, pendidikan bagi anak normal dan anak-anak yang mengalami disabilitas. Meski mereka berbeda karena memiliki kecacata, namun mereka mempunyai hak yang sama dengan anak-anak lainnya dalam hal mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Pada sensus tahun 2010 mengenai anak-anak disabilitas ditemukan data sebanyak 2% dari anak usia 0 sampai 14 tahun merupakan penyandang disabilitas. Sebanyak 2% total terdapat 3 juta anak penyandang disabilitas, dan sangat disayangkan anak-anak disabilitas yang mendapat pendidikan kurang dari 4%.

Pada kenyataanya sangat disayangkan, bahwa orang-orang terdekat seperti keluarga dan beberapa masyarakat dari penyandang disabilitas masih merasa malu ketika memiliki anggota keluarga yang mengalami disabilitas. Dibandingkan mendapat dukungan, para penyandang disabilitas lebih sering mendapat perilaku kurang menyenangkan, seperti diasingkan, diisolasi, dan dikucilkan dari lingkungan sekitar. Kondisi disabilitas disebabkan karena beberapa faktor, mulai dari faktor gen, kecelakaan dan kurang gizi. Padahal jika bisa memillih pun, pastinya mereka memilih untuk dilahirkan secara normal tanpa kekurangan satu apapun.

Demi meratakan pendidikan bagi anak-anak disabilitas, pemerintah sudah memiliki program pendidikan khusus bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk bisa menikmati pendidikan seperti anak-anak lain pada umumnya. Undang-undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan 2 menyatakan, “Setiap warga negara mempunyai kesempatan yang sama untuk meperoleh pendidikan” yang mendasari program pemerintah kali ini. Sekarang anak-anak berkebutuhan khusus tidak lagi harus menjalani sekeloah di Sekolah Luar Biasa (SLB) lagi, melainkan bisa bergabung dengan anak-anak lainnya melalui program sekolah inklusi. Apakah sekolah inklusi? Sekolah inkluasi merupakan sekolah reguler, yang biasa di tempati oleh anak-anak pada umumnya, namun tetap menerima siswa-siswi yang berkebutuhan khusus. Selain itu juga menyediakan sistem pendidikan yang sesuai dengan anak-anak difabel, berupa kurikulum, pembelajaran serta fasilitasnya.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi sekolah insklusi yang baik, diantaranya ;

  • Kesiapan guru pendamping bagi anak berkebutuhan khusus
  • Kesiapan seluruh pegawai di sekolah
  • Kurikulum khusus
  • Fasilitas atau sarana prasarana

Dengan diadakannya sekolah inkluasi ini sebetulnya bermaksud baik, selain ingin menyatarakan pendidikan antara anak-anak normal dengan anak-anak penyandang disabilitas, juga dapat melatih anak-anak bekerbutuhan khusus (ABK) untuk berinteraksi dengan anak-anak non ABK. Jika dapat menjalin interaksi dengan baik, tentunya dapat menumbuhkan rasa menghormati antar sesame dan tumbuh rasa empati. Namun tentu hal tersebut tidaklah mudah dilakukan. Adanya sekolah inklusi juga memberikan kekhawatiran tersendiri bagi saya, mengingat kasus bullying yang banyak dialami anak-anak berkebutuhan khusus kerap kali terjadi. (hkm)

Penulis : Siti Nurul Hikmah

You may also like

Leave a Comment