Rubah FoMO Menjadi JoMO

by Siti Nurul Hikmah

SiswaIndonesia.com, Malang – Di tahun 2021 mustahil rasanya jika ada yang mengaku tidak memiliki media sosial satupun. Awal mula adanya media sosial digunakan untuk alat komunikasi jarak jauh, namun dengan perkembangan yang semakin pesat, kini media sosial beralih bukan hanya alat komunikasi saja namun juga sebagai platform untuk membagikan aktivitas kita, melihat aktivitas orang lain dan tentu untuk melihat tren apa yang sedang ramai.

Kemajuan zaman yang semakin pesat ini tentu memberikan dampak positif bagi mereka yang dapat memanfaatkan dengan sebaik mungkin, namun sayangnya tidak hanya dampak positif saja yang timbul, dampak negatif pun dapat terjadi jika kita tidak bijak dalam menggunakan media sosial. Salah satunya adalah kecanduan media sosial, setelah pusing dengan kegiatan sehari-hari biasanya kita mencari hiburan dengan berselancar di media sosial, namun seringkali kita menjadi lupa waktu. Tidak sadar sudah menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk scroll timeline Tik-tok misalnya.

Selain kecanduan medsos, dampak negatif lainnya adalah ketika kita sudah mulai membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Merasa kehidupan orang lain lebih menyenangkan, mendorong kita untuk menjadi seperti orang lain, hilangnya rasa kepercayaan diri dan selalu ingin mengikuti trend yang sedang ramai. Hal ini sering disebut dengan FoMO (Fear of Missing Out), pada artikel sebelumnya sudah banyak menjelaskan tentang apa itu FoMO. Secara garis besar, FoMO memiliki arti perasaan gelisah dan takut jika tertinggal tren oleh orang-orang di sekelilingnya.

Tenang, di artikel kali ini kita ngga ngomongin tentang FoMO lagi kok, melainkan kita bahas lawan dari FoMO, yaitu JoMO. Joy of Missing Out atau sering dikenal dengan istilah JoMO adalah cara hidup yang lebih santai dan tidak merasa bermasalah jika terlambar mengetahui sebuat berita atau tren. Menurut Jurnal Penelitian yang ditulis oleh Seprianus Kiding dan Andik Matulessy, perilaku gaya hidup JoMO memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menjalani hidup dalam ritme yang lebih lambat, lebih fokus pada relasi dengan sesame manusia, kemampuan untuk mengatakan “tidak”, memberikan ruang khusus terhadap diri sendiri yang terlepas dari ketergantungan teknologi, serta memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk merasakan segala emosi yang ada.

Mereka yang menerapkan gaya hidup JoMO cenderung lebih tenang dalam menjalani hidup tanpa takut melewatkan kesenangan Bersama orang lain. Ciri dari orang yang menganut paham JoMO ini lebih senang jika melakukan aktifitas tanpa melibatkan media sosial, merasa tidak memerlukan validasi orang lain terhadap aktifitas yang ia lakukan. Namun bukan berarti mereka sama sekali tidak terhubung dengan sosial media ya, mereka tetap memanfaatkan penggunaan sosial media kok, namun mereka dapat membatasi penggunaan sebagai mana mestinya.

Lalu bagaimana cara agar bisa manjadi JoMO? Sebenarnya menanamkan sikap JoMO adalah hal yang mudah, namun bagi kalian yang sebelumnya mengalami FoMO, maka bukan suatu perkara yang mudah untuk dilakukan karena harus menjalani hal yang berkebalikan. Meski sulit, namun bukan berarti kamu tidak bisa merubahnya. Tentu kamu akan bisa berubah jika kamu benar-benar menerapkan, dan selalu konsisten dengan apa yang kamu lakukan. Cara dibawah ini bisa mulai kamu lakukan :

  1. Menetapkan Prioritas

Ketika mengunjungi platform media sosial, biasakan untuk tentukan tujuan sebelumnya. Jika hanya ingin mencari suatu topik berita, ketika sudah mendapatkan informasi biasakan untuk menutup setelahnya. Seringkali kita merasa ‘kebablasan’ ketika bermedia sosial, hal itu terjadi karena kita tidak memiliki tujuan yang pasti.

  1. Menetapkan batas waktu

Sudah banyak aplikasi pihak ketiga yang dapat mengatur seberapa lama kita bermain media sosial. Misalnya, menerapkan waktu hanya 1 jam dalam sehari membuka aplikasi Tik-tok, maka setelah kamu bermain Tik-tok selama 1jam, aplikasi otomatis keluar dan kamu tidak dapat mengaksesnya kembali. Hal ini tentu bisa membantu kamu untuk tidak kecanduan, dan dapat lebih fokus terhadap pekerjaan lain yang lebih bermanfaat.

  1. Mematikan notifikasi

Ketika kita sedang melalukan sesuatu, seringkali kita merasa ke distracthanya karena notifikasi muncul. Untuk itu perlu mematikan notfikasi kecuali pada notifikasi yang dirasa penting, seperti pemberitahuan tugas sekolah, atau orang-orang terdekat (orang tua dan keluarga)

  1. Berani berkata ‘Tidak’

Tidak semua kegiatan harus kamu ikuti. Kamu harus tegas mengatakan “tidak” jika ajakan tersebut bukan termasuk prioritas. Lakukan hal-hal yang kamu senangi, tentunya kegiatan yang bermanfaat ya!

Yang perlu kamu ingat adalah, menerapkan JoMO bukan berarti kamu menghilang dari kehidupan sosial, justru dengan menerapkan JoMO kamu bisa memulai bangun koneksi lebih akrab dengan orang-orang disekitar. Percayalah, hidup akan lebih menyenangkan jika kamu bisa mengatur sesuai dengan porsinya. Tidak harus selalu mengikuti tren agar mendapat validasi dari orang lain.

You may also like

Leave a Comment