Remaja dengan Kecenderungan Perilaku Fomo

by Anisa Mahiswari

SiswaIndonesia.com, Malang – Apakah sebagai penggguna social media kamu pernah merasa khawatir saat terlewat informasi yang sedang beredar di social media? Atau mungkin pada saat-saat tertentu merasakan takut dan cemas bila tidak terhubung dengan akun social mediamu walau hanya beberapa menit? Apabila kamu merasakan hal ini, maka waspadalah! Mungkin secara tidak sadar kamu telah mengalami gangguan yang disebut FOMO atau Fear of Missing Out.

Menurut jurnal penelitian yang ditulis oleh Rizki Setiawan Akbar, Audry Aulya, Adra Apsari, Lisda Sofia FOMO atau  Fear of Missing Out adalah yaitu adanya keinginan yang besar untuk tetap terus terhubung dengan apa yang sedang dilakukan oleh orang lain melalui dunia maya. FoMO di definisikan sebagai perasaan gelisah dan takut bahwa seseorang tertinggal, apabila teman-temannya sedang melakukan atau merasakan sesuatu yang lebih baik atau lebih menyenangkan dibanding apa yang sedang ia lakukan atau ia miliki saat ini. Perasaan di mana seseorang merasa begitu khawatir jika melewatkan tren yang sedang terjadi dikehidupan sosialnya. stilah FoMO ini diciptakan pada tahun 2004, ketika penulis Patrick J. McGinnis menerbitkan sebuah oped di The Harbus , majalah Harvard Business School , berjudul McGinnis ‘Two FO’s: Social Theory di HBS, di mana ia merujuk pada FoMO dan kondisi terkait lainnya.

Berkembangnya teknologi juga beriringan dengan dampak yang diberikan, munculnya FOMO sebagai sindrom kecemasan social yang ditandai dengan ketakutan atas ketinggalan berita, sindrom ini berkembang seiring dengan adanya kecanduan dalam penggunaan internet. Seseorang yang mengalami gangguan FOMO biasanya akan memiliki perasaan rendah diri, penghinaan dan depresi karena takut dihakimi oleh orang lain. Bahkan terkadang juga melibatkan rasa iri yang mendalam. Akhirnya, dapat memengaruhi kepercayaan diri. Gangguan FOMO sangat berbahaya karena dapat meningkatkan rasa tidak bahagia dan ketidakpuasan dalam hidup. Akibatnya, keinginan untuk menggunakan social media semakin meningkat dan keterlebitan perilaku yang tidak sehat pada diri.

Menurut jurnal penelitian yang ditulis oleh Monica Carolina, gangguan FOMO juga terjadi pada remaja karena Generasi Y dan Z masih dapat dikategorikan sebagai young adult, atau remaja dimana pada masa masa ini, merupakan masa yang penting untuk melakukan eksplorasi untuk pencarian dan pembentukan identitas. Konsep diri merupakan aspek psikologis pertama antara remaja dan berhubungan erat dengan pembentukan identitas diri. Pembentukan ini memiliki pengaruh yang erat melalui internet, lingkungan sosial dan keluarga, sedangkan seperti yang kita sudah ketahui dari penjelasan diatas remaja menghabiskan banyak waktunya menggunakan internet untuk melakukan apapun termasuk berhubungan dengan orang lain melalui sosial media.

Kehidupan di dunia maya kemudian menjadi mengarah ke konsep diri ideal bagi penggunanya, membuat para remaja berlomba-lomba membentuk citranya sesuai dengan keinginannya dengan cara apapun. Disisi lain, fenomena ini membuat remaja merasa lebih dihargai dengan adanya timbal balik berupa pujian dan likes dari orang lain dalam media sosial sehingga membuat remaja menjadi lebih berani untuk memaparkan dirinya dan membuat orang lain terkesan dengan citra yang dibangun.

Jika kamu tidak yakin apakah menderita FOMO, berikut membahas ciri-ciri penderita fomo yang dilansir dari popmama.com/:

  1. Menggunakan media sosial setiap jam dan tidak dapat mengalihkan pandangan dari ponselnya

Gejala FOMO dapat dilihat ketika remaja menggunakan smartphone dan media sosialnya selama waktu yang lama, hingga ia benar-benar tidak dapat meletakkan telepon dan selalu gelisah menunggu teks atau undangan.

2.     Ingin mengambil bagian pada tren atau kegiatan yang sedang dilakukan banyak orang

Gejala utama FOMO adalah kebutuhan terus-menerus untuk mengambil bagian dalam tren atau kegiatan sebanyak mungkin karena takut ketinggalan.

Seperti merasa perlu pergi ke acara ini atau ke konser itu, atau bahkan untuk membeli smartphone terbaru karena takut merasa akan ketinggalan jaman. FOMO juga dapat meminta remaja mengikuti perkembangan tren di media sosial dan mengunduh aplikasi dengan tujuan mengubah sesuatu dalam hidup.

3.     Tidak mau kesepian hingga ingin mengetahui semua kegiatan temannya

Jika kamu terus menerus merasa kesepian maka perlu waspada karena bisa berdampak pada kesehatan mental. Karena kesepian kamu selalu ingin tahu kegiatan teman-temanmu.

4.     Sering membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain

Ketika setiap orang tampaknya memiliki kehidupan yang lebih menakjubkan, ia akan mulai membandingkan dirinya dengan orang lain dengan rasa cemburu. Jika perasaan ini dikombinasikan dengan perilaku FOMO, maka dapat memberikan dorongan besar untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, jika tidak maka membuat ia merasa kalah dalam persaingan yang bahkan “tidak nyata” dalam hidupnya.

5.     Sedih ketika tidak diundang

Merasa sedih ketika tidak diundang, adalah reaksi manusia yang umum namun ini merupakan gejala FOMO, meskipun itu hanya kasus FOMO ringan. Jika ingin menghadiri setiap pesta atau diundang ke mana-mana maka memiliki gejala FOMO.

Agar kamu tidak mengalami gangguan FOMO maka ingatlah bahwa tidak semua yang diunggah di social media itu seindah kenyataannya. Karena banyak orang mengganggap bahwa sebagai pengguna social media yang baik harus memberikan postinganyang positif, agar orang lain yang melihat juga mendapatkan aura positif yang diberikan. Maka petiklah sesuatu yang positif dari apa yang kamu lihat.

You may also like

Leave a Comment