Peristiwa 504, Sejarah Baru Bagi SMAN 2 Malang

by admin

Ratusan siswa SMAN 2 Malang sedang melakukan demo terhadap kepala sekolah mereka, Roro Dwi Retno (Foto : dok. pribadi)

SiswaIndonesia.id, Malang – Kamis 5 April 2018 lalu, mungkin akan menjadi sejarah baru bagi sekolah yang beralamat di Jl. Laksamana Laut RE Martadinata No. 84, yaitu SMAN 2 Malang. Banyak media yang meliput peristiwa tersebut, bahkan ada yang mengatakan bahwa peristiwa tersebut hampir mirip dengan kejadian tahun 1998 ketika para aktivis mencoba untuk menurunkan presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto.

Seperti kita ketahui bahwa persitiwa tahun 1998 adalah bentuk atas ketidak puasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Soeharto. Pemicu dari kejadian ini banyak sebabnya, menurut sebuah tulisan dari sejarahlengkap.com ada tiga penyebab utama yang menjadi pemicu kejadian ini, pertama dari krisis ekonomi, yang mana pada saat itu kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dollar mencapai 600% lebih, dari Rp. 2.650,00 hingga ke angka Rp. 16.800,00 per 1 USD. Kemudian yang kedua karena terbunuhnya empat mahasiswa Universitas Trisakti, empat mahasiswa tersebut ditembah mati oleh aparat keamanan, sampai saat ini peristiwa pembunuhan mahasiswa Trisakti dikenal dengan Tragedi Trisakti. Dan pemicu yang ketiga adalah penindasan terhadap Etnis Tionghoa, ini adalah pemicu yang cukup sensitif, bahkan sampai saat ini masih ada sentimen akan hal tersebut.

Hal serupa juga terjadi di Kota Malang, bahkan masih segar dalam ingatan kita bahwa sempat ramai pemberitaan di media tentang demo yang dilakukan oleh siswa-siswi SMAN 2 Malang dalam rangka menurunkan kepala sekolah mereka, Roro Dwi Retno. Sikap arogansi dari beliau inilah yang akhirnya memicu peristiwa 504 (5 April) ini terjadi. Sebenarnya sikap beliau ini sudah tampak sejak pertama kali beliau memimpin di SMAN 2 Malang, sekitar tiga tahun lamanya.

Bagi kalangan siswa SMAN 2 Malang, beliau memang mempunyai basic yang tegas, tapi tidak untuk cara berkomunikasi dan bersikapnya. Cara berkomunikasi yang beliau sampaikan dinilai terlalu arogan dan cenderung menghina siswa, maka tidak jarang siswa SMAN 2 Malang yang merasa tidak nyaman dengan perkataan beliau. Tidak hanya sampai disitu, beliau juga terkadang melakukan tindakan fisik, seperti melempar sepatu, dan mendorong kepala salah seorang siswa yang secara tidak sengaja membuat keributan saat hendak masuk kelas.

Reporter siswaindonesia.id mencoba menemui salah seorang anak yang dulunya sempat ikut ‘berjuang’ untuk menurukan kepala sekolah tersebut,

“Sebenarnya orangnya tegas, akan tetapi cara penyampaian beliau kurang tepat, pernah dulu ada anak sholat sunah malah disuruh masuk kelas, alasannya sholat itu kerjakan yang wajib saja, sunahnya tidak usah. Pernah juga ada yang sepatunya dilempar, kemudian bawa-bawa nama orang tua, dan menyinggung status ekonomi, seperti miskin dan kaya gitu,” ujar anak yang tidak ingin disebutkan namanya.

Isu dari sikap Retno yang membuat geram para siswa ini sudah dirasakan sejak dua tahun lalu. Tepatnya ketika beliau menjabat pertama kali, namun tidak begitu banyak bukti untuk bisa menuntut dirinya mundur dari jabatannya sebagai kepala sekolah SMAN 2 Malang. Sampai pada akhirnya ada suatu kejadian yang  bisa dibilang sebagai klimaks dari sikap arogansi Retno waktu itu, yaitu ketika seorang siswa baru selesai mengerjakan sholat zuhur dan bertepatan dengan bunyi bel tanda selesainya jam istirahat kedua. Retno yang saat itu melihat ada anak yang masih belum masuk kelas segera mengingatkan anak tersebut, karena image dari Retno ini menakutkan bagi siswa SMAN 2 Malang, sehingga membuat anak tersebut lari ke kelasnya dengan terbirit-birit yang menimbulkan suara hentakan kaki yang cukup berisik pada saat itu. Bu Retno yang merasa terusik dengan hal itu langsung mendatangi kelas dimana anak itu berada dan mencari tahu siapa yang telah membuat suara keributan tadi. Sang anak yang merasa salah pun maju, dan kalian tahu apa yang dilakukan Retno? Retno mendorong kepala anak tersebut, ada beberapa anak yang mengambil video saat kejadian tersebut untuk digunakan sebagai barang bukti.

Dua orang siswa sampai naik ke atas genteng guna menyuarakan keresahan mereka terhadap gaya kepemimpinan Roro Dwi Retno (foto : dok. pribadi)

“Selama masa kepemimpinannya dua tahun itu sempat mau didemo tapi tidak jadi karena ada kendala atau apa gitu, nah kemudian baru tahun 2018 ini, insidennya saya ingat sekali, teman saya sholat zuhur waktu bel selesai di jam istirahat kedua, teman saya baru selesai salat kemudian turun dari musala hendak pake sepatu, orangnya (Retno) datang dan mengingatkan, waktu itu anaknya lari sampai ke atas sehingga menimbulkan suara berisik karena lari-lari tadi. Setelah itu Bu Retno nyamperin ke kelasnya, kebetulan dikelas saya, tanya lah Bu Retno, tadi siapa yang lari-lari, akhirnya teman saya yang lari-lari itu ngaku dan maju. Bu Retno malah njeglukno (mendorong) kepala temen saya, ya main fisik lah, kebetulan teman saya ada yang sengaja merekam untuk dijadikan bukti. Itu sempat heboh, sampai teman saya dipanggil ke ruang kepala sekolah untuk dimintai keterangan,” ungkap anak yang satu kelas dengan korban.

Sejak kedian itu hubungan antara para siswa dengan bu Retno semakin memanas, 4 April 2018, salah seorang siswa ada yang diintrogasi oleh pihak sekolah, khususnya jajaran pengurus SMAN 2 Malang. Dia diintrogasi berkaitan isu akan adanya demo yang dilakukan siswa-siswi SMAN 2 Malang terhadap bu Retno.

“Malam sebelum hari H, teman saya katanya ada yang diintrogasi oleh pihak sekolah, jajaran-jajarannya, entah ada atau tidak adanya Bu Retno saya kurang tahu, pokoknya dia diintrogasi malam-malam. Kalau tidak salah ada pertanyaan dari jajaran seperti ini, apa benar ada demo dari siswa ke Bu Retno?,” tandas anak yang juga ikut dalam aksi demo tersebut.

Panasnya terik matahari tidak mengurangi semangat para siswa dalam melakukan aksi demo (foto : dok. pribadi)

Entah malam sebelum hari-H atau paginya pas hari-H, ada pengumuman melalui pesan singkat (SMS) kepada siswa yang berasal dari pihak sekolah, yang isinya menyatakan bahwa keesokan harinya, tanggal 5 April 2018 sekolah diliburkan dengan alasan ada rapat dari Dinas Pendidikan. Siswa SMAN 2 Malang pun mencoba mencari tahu kebenaran hari libur tersebut, ternyata yang libur itu hanya SMAN 2 Malang, sehingga ini memperkuat dugaan siswa bahwa sesuatu yang besar akan terjadi. Dan benar saja, keesokan harinya tepat tanggal 5 April 2018 terjadi demo besar-besaran yang dilakukan oleh para siswa SMAN 2 Malang terhadap Retno, dengan tuntutan agar beliau mundur dari kursi kepala sekolah.

“Abis itu malam apa paginya gitu, kami dapat sms dari sekolah, pada hari itu tanggal 5 April sekolah diliburkan karena adanya rapat dari dinas kalo tidak salah, kami nganggapnya waktu itu hoax karena sekolah lain tidak diliburkan. Sedangkan anak-anak mikirnya ayo wes rek budal budal, akhirnya teman-teman tetap berangkat ke sekolah mas, didepan sekolah ini sudah ada polisi berjejeran. Di tempat parkir ditunggu pihak guru, waktu itu ada siswa yang mau parkir, tapi gurunya bilang wes kamu pulang aja sekolahnya libur kok. Nah kenapa jadi ada polisi jaga-jaga mungkin ada yang pro dan kontra sama beliau, dan ada yang membocorkan bahwa anak-anak ini akan demo, makanya dijaga duluan. Karena anak-anak tidak bisa parkir di area sekolah, mereka akhirnya parkir motornya di stasiun kota lama, kemudian jalan kaki rombongan dari stasiun ke sekolah. Alumni pun juga datang, sampai depan sekolah anak-anak diminta masuk ke lapangan basket. Teman-teman pun mikirnya kalau hari ini Bu Retno tidak diturunkan, mereka mau langsung ke Dinas Pendidikan Kota Malang. Setelah masuk ke lapangan basket, anak-anak yang jadi korban atas perlakuan Bu Retno dibawa ke aula Sabayatama, disana sudah ada guru-guru yang lain untuk mendengarkan kesaksian mereka, setelah nunggu agak lama akhirnya diumumkan pada hari itu Bu Retno ditarik dari SMAN 2 ke dinas, dan mulai besok ada pengganti sementara,” ungkap anak yang juga menjadi saksi dalam peristiwa tersebut.

Beberapa hal yang terasa ketika bu Retno sudah tidak menjabat lagi sebagai kepala sekolah adalah suasana sekolah menjadi lebih kondusif. Siswa yang biasanya takut untuk beraktivitas seperti biasa sudah mulai merasa tenang. Memang ketika bu Retno menjabat sebagai kepala sekolah, banyak sekali hal-hal yang sifatnya kecil dan lumrah untuk dilakukan menjadi sebuah hal yang tidak diperbolehkan. Misalnya saja ketika ada siswa yang ingin ke kamar mandi buang air kecil diharuskan menunggu jam istirahat agar bisa ke kamar mandi, kalaupun tidak tahan terpaksa mereka sembunyi-sembunyi untuk pergi ke kamar mandi.

“Dampak paling nyata dan paling kerasa waktu Bu Retno pindah itu suasana, suasana jadi lebih adem, karena waktu ada bu Retno anak-anak mau ngapa-ngapain susah, takut, ke kamar mandi aja waktu itu ga boleh, harus nunggu bel istirahat, kalo kebelet pun ya sembunyi-sembunyi ke kamar mandinya,” ungkap anak yang saat itu masih kelas XI.

Atas kejadian itulah diperingati sebagai peristiwa 504, walaupun setiap angkatan berbeda dalam menamai peristiwa tersebut.

“Sejak tahun itu diperingati sebagi peristiwa 504, tapi beda-beda tiap angkatannya namainnya, angkatan atas saya itu namainnya angkatan revolusioner.” imbuh anak tersebut kepada reporter SiswaIndonesia.id.

Sementara itu disisi lain, dengan adanya peristiwa tersebut ternyata tidak mengurangi minat siswa yang ingin bersekolah di SMAN 2 Malang. Salah seorang siswa baru di SMAN 2 Malang yang bernama Athaya Khansania Pambudi mengaku, bahwa pada awalnya sempat kaget dan cemas tentang seperti apa kedepannya ketika sekolah nanti. Namun seiring dengan berjalannya waktu, disertai mulai terungkapnya banyak fakta yang sebenarnya, dirinya merasa lega dan tidak terlalu memperdulikan lagi tentang hal tersebut.

“Awalnya saya mikir kok bisa gitu, wah gimana pas saya masuk, terus ternyata setelah mendengar faktanya saya langsung lega, tidak lagi cemas dan berfikiran negatif lagi untuk sekolah disini,” ujar anak bungsu dari dua bersaudara ini. (dni)

 

Penulis                    : Ahmad Ridhani Denie Rahman

Editor                      : Nada Nabila

 

 

 

 

 

 

You may also like

Leave a Comment