Opini : Sistem Zonasi Hilangkan Stigma Sekolah Favorit

by Anisa Mahiswari

SiswaIndonesia.com, Malang – “Sekolah” mendengar kata ini tentu akan langsung terlintas didalam benak adalah sebuah tempat yang digunakan untuk melakukan kegiatan belajar mengajar dan mencari ilmu. Tempat yang digunakan orang-orang untuk mendapat pendidikan formal. Untuk mendapatkan ilmu tentu siswa harus membaca, menyimak dan berdiskusi dengan teman atau guru.

Tidak hanya mengajarkan materi pengetahuan saja, disekolah tentu juga diajarkan untuk berinteraksi, berusaha, bertanggung jawab, membangun jiwa kepemimpinan, belajar mandiri atau kelompok, sopan santun, tata tertib, disiplin, menghormati dan segala perilaku yang baik pasti akan diajarkan oleh tiap sekolah agar siswa bisa menjadi orang yang baik dan berguna untuk diri sendiri maupun orang lain.

Sebelum diberlakukannya sistem zonasi, stigma sekolah favorit dan non favorit menjadi tolak ukur dalam pemilihan sekolah. Jaminan akan mutu prestasi, fasilitas yang diberikan sekolah, layanan pendidikan, kuatnya jaringan alumni terutama tingkat penerimaan pada jenjang berikutnya atau pada perguruan tinggi neheri menjadi kriteria khusus orang tua sebagai pilihan sekolah yang tepat dan bermutu bagi anak-anaknya.

Ketika ada sekolah yang banyak meluluskan siswanya ke perguruan tinggi negeri, tidak menjadi hal yang tabu bahwa orang tua akan berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah itu. Bahkan tak jarang agar anak bisa diterima di sekolah itu, beberapa orang tua bahkan menggunakan hal-hal yang ilegal. Mereka juga berpikir dengan masuk sekolah favorit, orang tua juga merasa bisa disegani oleh masyarakat karena di sekolah favorit memiliki pendidikan yang berkualitas dan menjanjikan keberhasilan dalam kehidupan di masa datang.

Perilaku tersebut juga didasari karena orang tua berharap agar anaknya kelak dapat berprestasi disekolah dan mendapat lingkungan yang baik. Pada saat kelulusan nanti bisa masuk ke pergeruan tinggi dan menjadi sarjana, setelah itu bisa mudah mendapat pekerjaan. Namun dari pengalaman yang aku lihat sekolah juga bisa menjadi salah satu alat gengsi. Mengapa demikian? Karena dari beberapa teman yang aku temui mereka malu apabila tidak bersekolah di sekolah favorit. Padahal teman saya itu bisa dikategorikan bukan anak yang cukup pintar.

Melansir dari tirto.id, Veithzal Rivai Zainal dalam The Economic of Education: Mengelola Pendidikan Secara Profesional untuk Meraih Mutu dengan Pendekatan Bisnis (2014) mengatakan sekolah favorit (favorite school) merupakan istilah lain dari sekolah yang efektif (effective school). Ia berkata bahwa sekolah yang efektif adalah sekolah yang input-nya baik atau kurang baik, proses pendidikannya sangat baik, dan menghasilkan output baik atau sangat baik.

Dilihat dari mutu dan proses pendidikannya, sekolah yang efektif termasuk satu dari empat kategori sekolah. Selain effective school, ada pula kelompok bad school (sekolah yang buruk), good school (sekolah yang baik), dan excellence school (sekolah unggul).

Bad school adalah sekolah yang memiliki input yang baik atau sangat baik tapi proses pendidikannya tidak baik sehingga menghasilkan output yang tidak bermutu. Good school adalah sekolah yang mempunyai input yang baik, proses baik, dan hasilnya (output) baik. Sementara itu, excellence school adalah sekolah yang input-nya sangat baik, prosesnya sangat baik, dan menghasilkan lulusan yang sangat baik pula.

Veithzal Rivai Zainal berkata sekolah favorit atau sekolah yang efektif mempunyai lima karakteristik. Ciri pertama adalah pelaksanaan praktik pengelolaan kelas yang baik. Berikutnya, para siswa mempunyai kemampuan akademik yang tinggi. Tak hanya itu, sekolah favorit mempunyai pengawasan kemajuan murid dan peningkatan pengajaran menjadi prioritas sekolah. Terakhir, sekolah favorit memiliki kejelasan arah dan tujuan.

Namun karena adanya stigma sekolah favorit, menjadikan sebagian orang berpikir bahwa sekolah non favorit bukan pilihan yang bagus. Inilah suatu stigma yang harus dirubah dalam masyarakat karena hal ini menjadikan sekolah bukan tempat mencari ilmu melainkan untuk tempat mencari gengsi.

Dengan adanya fenomena ini, pemerintah akhirnya mengubah sistem penerimaan siswa baru dengan menerapkan sistem zonasi. Menurut pusat data dan statistik pendidikan dan kebudayaan Pengertian “zonasi” dimaknai sebagai pembagianatau pemecahan suatu areal menjadi beberapa bagian,sesuai dengan fungsi dan tujuan pengelolaan (KamusBesar Bahasa Indonesia). Dengan sistem zonasisemua – khususnya sekolah negeri – disiapkan untukmemberikan layanan pendidikan yang bermutu secaramerata bagi warga anggota masyarakat pada suatu arealatau kawasan tertentu sehingga anak-“anak terbaik”tidak perlu mencari “sekolah terbaik” yang lokasinyajauh dari tempat tinggalnya. Sistem Zonasi initernyata memberi implikasi pada perlunya penyiapansekolah yang sama dan setara mutunya dengan sekolah  yang selama ini dianggap sekolah unggul atau sekolahfavorit.

Dilansir dari kominfo.go.idKebijakan zonasi pada penerimaan peserta didik baru diatur di dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 14 Tahun 2018.Sistem zonasi mengatur sekolah wajib menerima calon peserta didik yang berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah paling sedikit sebesar 90% (Sembilan puluh persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.

 

Radius zona terdekat ditetapkan pemerintah daerah sesuai dengan ketersediaan anak usia sekolah di daerah tersebut dan daya tampung rombongan belajar pada setiap sekolah. Namun demikian, sekolah dapat menerima peserta didik baru di luar zona terdekat karena alasan prestasi paling banyak 5% dan paling banyak 5% karena alasan khusus, misalnya perpindahan domisili orang tua/wali.

 

Hal ini juga dilakukan agar tidak ada lagi orang tua siswa yang memburu sekolah favorit sehingga anak-anak berprestasi dan kaya akan berkumpul dalam satu sekolah. Sementara itu, siswa yang dianggap kurang pintar dan tidak mampu akan berkumpul di sekolah pinggiran atau non-favorit. Dengan begitu langkah ini juga menjadi suatu cara untuk memaratakan kualitas pendidikan di Indonesia.

You may also like

Leave a Comment