OPINI – Gagal SBMPTN Bukan Akhir Dunia

by Siti Nurul Hikmah

SiswaIndonesia.com, Malang– Senin, 14 Juni 2021 kemarin merupakan hari pengumuman kelulusan bagi peserta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Pengumuman kelulusan diumumkan serentak pada pukul 15.00 WIB di link resmi milik Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). Dari total peserta yang ikut serta sebanyak 777.858, namun hanya sebanyak 184.942 peserta saja yang dinyatakan lolos. Selamat bagi peserta yang lolos, dan untuk peserta yang belum lolos seleksi kali ini, jangan berkecil hati karena kamu tidak sendiri, ada 592.916 peserta lain yang bernasib sama sepertimu.

Bagi peserta yang lolos SBMPTN 2021, saya ucapkan selamat namun jangan terlena, karena rintangan belum berakhir. Pengumuman ini hanya permulaan, masih Panjang perjuangan. Sedangkan bagi yang belum beruntung, jangan berkecil hati. Masih banyak kesempatan yang bisa kamu perjuangkan kedepannya. Bangkit dan persiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi jalur mandiri.

Yang perlu dikhawatirkan saat ini adalah, dampak dari pasca pengumuman SBMPTN, tentu tidak sedikit dari peserta yang belum lolos merasa kecewa yang berlebih. Hal ini bisa jadi merupakan gejala dari depresi. Namun pada praktiknya, depresi sering kali dianggap remeh dan diabaikan, karena gejala awal yang terlihat hanya seperti murung dan merasa sedih. Hal ini lah yang membuat rancu, antara perasaan sedih semata atau gejala ringan dari depresi. Menurut Jurnal Penelitian yang di tulis oleh Fatmasari, Mengungkap Gejala Depresi Pada Remaja yang Gagal Masuk Perguruan Tinggi Negeri.

Disini peran orang tua, keluarga serta lingkungan sekitar sangat dibutuhkan. Sering kali para orang tua menekan anak, salah satunya dengan membanding-bandingan dengan teman yang lolos SBMPTN. Hal ini tentu membuat sang anak semakin merasa tertekan dan merasa sendiri. Seharusnya keluarga menjadi rumah yang nyaman ketika anak mengalami kekecewaan diluar sana. Sesederhana memberi pelukan dan ucapaan semangat, diharapkan bisa memperbaiki suasana hati sang anak. Orang tua harus peka terhadap gejala anak yang mulai memperlihatkan tanda depresi ringan.

Ilustrasi sumber dari Google

Merasa kecewa dan sedih tentu hal yang lumrah terjadi ketika mengalami kegagalan, namun bukan berarti harus membiarkan rasa sedih berkepanjangan. SBMPTN bukan satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Mimpimu tidak serta merta berhenti ketika tidak lolos seleksi kali ini. seperti kata pepatah “Banyak jalan menuju Roma”, untuk menuju kesuksesan, masih banyak jalan yang bisa kamu pilih. Jika kamu anak yang mendewakan Perguruan Tinggi Negeri serta memiliki dana yang cukup, kamu bisa saja mengikuti seleksi jalur mandiri di Universitas impianmu. Namun yang perlu kamu ingat, jalur yang dikelola secara independent tiap universitas ini memiliki ketentuan yang berbeda, biasanya hanya sekitar 30% dari jumlah total kursi penerimaan mahasiswa baru.

Seringkali perguruan tinggi swasta dinilai sebelah mata, tidak sedikit yang masih menganggap bahwa PTS hanya jajaran kampus yang kurang diminati dan terkesan diremehkan,selain itu juga dianggap tidak kompeten untuk bersaing di dunia kerja nanti, padahal untuk bersaing yang diandalkan bukan dari mana asal almamatermu, melainkan seberapa banyak pengalamanmu selama berkuliah serta kemampuanmu dalam bekerja nanti. Ingat masuk dan menjadi mahasiswa PTS bukanlah sebuah aib. Saat ini sudah banyak PTS yang masuk kategori kampus favorit, melihat dari daftar kampus favorit menurut Webometrics terdapat 10 PTS terbaik di Indonesia edisi Juli 2020 yaitu ;

  • Telkom University (Tel-U)
  • Univeritas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)
  • Univeritas Bina Nusantara (Ubinus)
  • Universitas Narotama Surabaya (Unnar)
  • Univeritas Mercu Buana (UMB)
  • Universitas Gunadarma
  • Univeritas Islam Indonesia (UII)
  • Universitas Dian Nuswantoro (Udinus)
  • Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
  • Universitas Katolik Parahyangan (Unpar)

Selain sering diremehkan, sering kali PTS juga dianggap memakan banyak biaya, hal tidak 100% benar, banyak juga Universitas swasta yang menawarkan keringanan biaya berupa beasiswa bagi para mahasiswanya, tergantung seberapa rajin kamu untuk mencari tahu informasi.

Jalan lain yang bisa kamu tempuh selanjutnya adalah memutuskan untuk rehat atau cuti selama setahun. Istilah ini sering kali disebut dengan Gap Year. Gap Year sendiri adalah ketika seseorang memutuskan untuk rehat dan tidak berkuliah di tahun pertama setelah lulus dari di tingkat SMA. Alasanya beragam, bisa karena tidak lolos seleksi masuk perguruan tinggi, masih berkutat dengan jurusan kuliah apa yang ingin diambil, atau bisa juga karena kondisi ekonomi yang tidak memungkikan untuk melanjutkan di jenjang kuliah. Seperti yang dilansir oleh wirahadie.com, tren gap yearmemiliki sejarah sebelumnya. Tren rehat atau cuti ini merupakan salah satu tradisi pemuda Jerman sebelum Perang dunia 1. Mereka melakuka gap year untuk berkeliling Eropa sebagai proses pendewasaan dan penemuan jati diri.

Jika kamu merasa mengikuti jalur mandiri maupun mendaftar di PTS terasa berat perihal biaya, kamu bisa memilih untuk gap year terlebih dahulu. Memilih rehat sejenak bukan suatu kesalahan besar, meski teman-teman sebaya sudah berganti status dari pelajar menjadi mahasiswa, bukan berarti kamu kalah dari mereka. Justru kamu mempunyai banyak waktu luang untuk meng-upgrade skill mu.     Banyak pilihan selama gap year, seperti mengikuti les privat untuk mempersiapkan SBMPTN tahun depan, bisa juga memilih les bahasa asing atau memutuskan bekerja sambil belajar bisa menjadi solusi yang baik.

Apapun keputusanmu saat ini, bersikeras mengikuti tes jalur mandiri, masuk universitas swasta maupun memilih untuk rehat terlebih dahulu, pastikan kamu sudah memikirkan secara matang dan sudah siap dengan segala konsekuensi kedepan. Baiknya konsultasikan terlebih dahulu, mintalah pendapat kepada orang tua maupun guru BK, pilihan mana yang paling tepat untuk kamu pilih. Sukses selalu untuk adik-adik, semoga keberuntungan selalu berpihak kepada kalian. (hkmh)

 

Penulis            : Siti Nurul Hikmah

You may also like

Leave a Comment