OPINI – Bersama Lawan Praktik Pembajakan Buku

by Siti Nurul Hikmah

SiswaIndonesia.com, Malang – Pada artikel sebelumnya, tim siswaindonesia.com telah menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Bukan hanya satu riset saja, bahkan hampir semua riset menyebutkan hal yang sama bahwa minat baca masyarakat kita sangat minim. Namun tahukah kamu bahwa ada satu fakta mengejutkan yang sangat bersebrangan namun sama-sama menyedihkan. Apakah itu?

 

Meski negara kita dinobatkan sebagai negara yang minim memabaca, namun faktanya di negara kita juga tergolong tinggi dalam hal pembajakan buku. Aksi pelanggaran HKI (Hak Kekayaan Intelektual) khususnya pada pembajakan buku memang sudah sejak menjadi PR bagi negara kita. Meski sudah ada Undang-undang yang mengatur tentang pembajakan buku, namun pada kenyataanya pembajakan buku semakin berkembang subur. Apalagi saat teknologi berkembang semakin pesat, jika dulu penjual buku bajakan berkamuflase pada toko buku bekas, sekarang ini banyak buku buku bajakan yang diperjual belikan secara online di berbagai marketplace. Dengan begitu semakin tumbuh suburlah pembajakan buku di Indonesia.

 

Beberapa bulan lalu, seorang penulis novel, Tere Liye sempat meluapkan emosinya pada akun sosial medianya mengenai oknum-oknum yang menjual dan membeli buku bajakan ataupun e-bookillegal. Karena ia merasa sangat dirugikan atas tindakan pembajakan tersebut. menanggapi hal tersebut, warganet terbagi menjadi dua kubu, kubu pertama menganggap keluh kesah Tere Liye adalah hal wajar, dan kubu lainnya terlihat tidak setuju, terlebih dengan cara Tere Liye menyampaikan tanggapannya yang terkesan kasar. Sayangnya banyak warganet yang lebih fokus pad acara penyampaian Tere liye, dibandingkan dengan isu pembajakan buku. Sebagai penulis buku, yang banyak menghabiskan waktu dan jerih payah untuk bisa menghasilkan karya akan merasa sangat kecewa ketika orang lain yang hanya bermodalkan menggandakan karya nya dan dijual dengan harga yang miring. Oknum-oknum yang seperti ini sangat meresahkan bagi banyak penulis, tidak perlu capek untuk menghasilkan sebuah karya, namun dengan sangat mudah mendaptkan keuntungan.

 

Lalu, mengapa pembajakan buku meraja lela di negera kita? Permasalahan ini cukup kompleks ya, artinya bukan hanya satu sebab saja yang menyebabkan pembajakan buku menjadi persoalan yang mandarah daging. Banyak faktor yang mempengaruhinyaa. Apa saja faktor tersebut?

 

  1. Masyarakat yang masih awam

Salah satu faktor mengapa pembajakan buku masih tumbuh subur di Indonesia adalah karena masyarakat yang kurang mengerti tentang hak cipta. Masyarakat tidak sadar, bahwa pembajakan buku termasuk dalam hal kejahatan. Kebanyakan masyarakat masih menganggap bahwa membaca buku merupakan hal baik, dan mereka cenderung tidak peduli tentang bagaiama cara buku itu didapatkan, entah legal maupun illegal. Sebab bagi mereka yang terpenting adalah bagaimana isi dari buku tersebut. Mereka cenderung tidak peduli, ada proses dibalik terbitnya sebuah buku, dan harus melewati proses yang cukup panjang.

  1. Mahal nya harga buku

Mahalnya harga sebuah buku juga karena ada proses dibaliknya. Bukan hanya penulis saja yang memiliki peran besar dalam sebuah buku, dibaliknya ada juga editor penerjemah, desainer visual hingga pekerja di pabrik kertas atau percetakan dan sebuah karya juga tidak bisa di hargai murah karena memerlukan banyak usaha yang dilakukan oleh penulis untuk bisa menghasilkan sebuah karya. Selain faktor-faktor diatas, mahalnya harga buku juga dipengaruhi oleh harga kertas. Semakin tebalnya sebuah buku, maka bisa dipastikan semakin mahal pula harga buku tersebut. Bisa dilihat hasil dari buku-buku bajakan, yang hanya menggunakan kertas tipis, tentu kualitas tersebut jauh berbeda jika dibandingkan dengan kualitas kertas dari buku buku yang dijual secara resmi.

  1. Kebijakan pemerintah

Sebetulnya, di Indonesia sendiri sudah ada payung hukum yang jelas mengenai pembajakan buku, dapat dilihat pada Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang hak cipta, yang mana dalam undang-undang tersebut berisi seruan tentang larangan menduplikasikan buku-buku secara ilegal. Selain itu juga telah disebutkan mengenai hukuman yang akan didapatkan jika terbukti melanggar aturan tersebut, yaitu hukuman pidana selama kurun waktu 1-4 tahun serta denda mulai dari serratus juta hingga empat miliar rupiah. Namun pada kenyataanya, aturan ini hanya sebatas aturan saja, karena masih banyak kita temui buku-buku bajakan yang diperjual belikan secara bebas. Bahkan hal lucunya adalah, pembajak juga ikut menduplikasikan halaman yang berisi tentang ancaman undang-undang tersebut. Sepertinya mereka paham betul, bahwa pemerintah tidak benar-benar tegas memberantas tindakan ilegal semacam ini.

 

Jika melihat dari ketiga faktor diatas, maka banyak hal yang harus kita lakukan untuk menanggulangi persoalan ini. Dimulai dengan mengedukasi, memberikan informasi dan pengertian kepada masyarakat dari berbagai kalangan mengenai hal pembajakan buku, bahwa tindakan pembajakan buku termasuk dalam tindakan kejahatan dan dapat menyebabkan kerugian pada berbagai pihak. Bukan hanya penerbit dan penulis saja yang dirugikan, namun pembeli buku bajakan juga mendapat kerugian, berupa kualitas buku yang seadanya serta sering kali buku bajakan tidak lengkap, banyak halaman yang tidak tercetak dengan lengkap. Selain itu, kita juga perlu memberikan edukasi seputar bagaimana menemukan dan membeli buku yang ilegal.

 

Dalam segi harga, buku-buku di Indonesia masih terbilang mahal. Sedangkan tingkat ekonomi kita masih termasuk dalam tingkatan yang rendah. Masyarakat yang kekurangan dalam segi finansial akan sangat merasa keberatan jika membeli buku dengan harga mahal. Mereka cenderung memilih untuk membeli makanan untuk bertahan hidup dibandingkan dengan membeli buku. Akibatnya hal ini berkaitan dengan minimnya tingkat literasi di Indonesia. Untuk itu, hal yang seharusnya dilakukan adalah dengan sebisa mungkin menurunkan harga buku, tanpa harus membuat sensara bagi jajaran penulis, penerbit dan pihak-pihak lainnya, agar bukan hanya kalangan atas saja yang bisa menikmati membaca buku, namun masyarakat bawah pun juga bisa membaca buku.

 

Pemerintah disini memiliki peran yang sangat penting untuk bisa memberantas praktik jual beli buku bajakan. Pasalnya, pemerintah sejak lama memiliki undang-undang yang mengatur hal tersebut, namun sayangnya pemerintah juga seperti asal-asalan dan setengah hati untuk menanggapi masalah ini. Dengan memiliki dasar atau payung hukum yang jelas, seharusnya pemerintah mampu dengan tegas memberantas pembajakan buku yang terjadi di Indonesia. Dengan begitu, oknum-oknum pembajak buku akan semakin berkurang jika pemerintah benar-benar menerapkan kebjiakannya secara tegas.

 

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk membantu pemberantasan buku-buku bajakan? Mudah, dengan selalu mengedukasi orang-orang terdekat agar tidak membaca buku buku bajakan atau buku buku ilegal. Keterbatasan biaya, bukan menjadi alasan untuk membeli buku bajakan, jika tidak memiliki uang untuk membeli, bisa kok kita mencari buku di perpustakaan umum, membaca secara gratis namun tetap tidak membuat rugi siapapun.

You may also like

Leave a Comment