OPINI: Ada Apa dengan Siswa Jaman Sekarang?

by admin

Para siswa yang sedang berkumpul sambil bermain game pada smartphone masing-masing (Alvin/siswaindonesia)

SiswaIndonesia.id, Malang – Dunia pendidikan di Indonesia, sempat dihebohkan dengan adanya kasus penganiayaan seorang siswa kepada guru hingga berujung maut. Tak sedikit juga banyak unggahan-unggahan video singkat di platform media sosial tentang perilaku siswa yang dianggap tidak sopan dan tidak pantas kepada seorang guru. Bahasa yang kasar, gaya berperilaku dan berpakaian yang tidak pantas diusianya, jalinan pertemanan yang diluar batas wajar, dan masih banyak lagi fenomena-fenomena yang terjadi hingga membuat kita bertanya, sebenarnya ada apa dengan siswa jaman sekarang?

Di usia pelajar, siswa masih dikategorikan sebagai seorang anak. Seorang anak tentu akan mencari figur, model atau contoh yang keren untuk diikuti. Dalam kasus penganiayaan atau kekerasan yang dilakukan oleh seorang siswa, bukan tidak mungkin jika siswa tersebut beranggapan jika kekerasan itu adalah sesuatu yang keren. Jika sudah begini, siapa yang lebih patut untuk disalahkan?

Pada saat kasus-kasus ini terjadi, ada yang beranggapan jika pendidikan pada abad ke 19 jauh lebih baik. Murid sangat takut kepada guru dan metode kekerasan sebagai hukuman adalah hal yang lumrah, sehingga anak tahan banting dan tidak manja. Tidak seperti kasus yang banyak juga terjadi, dimana orang tua siswa datang ke sekolah karena anaknya mengalami kekerasan fisik.

Ada juga yang beranggapan jika ini kesalahan teknologi komunikasi dan informasi yang terus berkembang.  Siswa jaman sekarang yang moderen dianggap salah. Globalisasi dianggap membawa pengaruh yang buruk.

Jadi, haruskah kita kembali ke jaman dahulu, dimana didikan dengan kekerasan adalah hal yang lumrah dan tentu tidak ada gangguan dari globalisasi, untuk memperbaiki perilaku siswa jaman sekarang?

Berbicara tentang pendidikan, sebenarnya kita tidak hanya bicara tentang pengajaran. Pengajaran atau mengajar adalah sebuah proses transfer ilmu dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi bisa. Sedangkan pendidikan atau mendidik tidak hanya pada batas proses transfer ilmu, tetapi di ikuti oleh adanya perubahan perilaku.

Ada tiga aspek penting dalam membentuk cara berpikir dan perilaku seorang anak, yaitu pendidikan formal, keluarga, dan lingkungan. Banyak dari orang-orang yang beranggapan jika seorang anak akan otomatis terdidik hanya dengan mengeyam bangku pendidikan. Seolah-olah, tanggung jawab “mendidik” hanya menjadi tugas dari seorang guru dan pihak sekolah. Padahal, pada kenyataannya, jika dikalkulasikan dari total jam seorang anak, anak paling banyak menghabiskan waktu di luar sekolah (jika sekolah tidak menerapkan full day school) bersama keluarga dan lingkungannya. Ini berarti orang tua dan lingkungan juga bertanggung jawab untuk mendidik para penerus bangsa ini.

Menyalahkan seorang siswa, orang tua siswa, sebuah instansi pendidikan, kurikulum, perkembangan teknologi, atau fenomena globalisasi tentu bukan jawaban dan juga bukan jalan keluar. Tetapi kita yang sebagai orang lain ini, sebagai bagian dari lingkungan ini, juga bertanggungjawab menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mendidik para penerus bangsa tersebut. Menjadi tugas kita untuk menjadi tokoh, figur, model atau contoh yang keren dan positif agar ditiru oleh seorang anak, di lingkungan kita.

Jadi pertanyakan, apakah kita sudah memberikan contoh yang tepat? Apakah di media sosial kita sudah menggunakan tutur bahasa yang sopan? Apakah di dalam lingkungan kita sudah berperilaku yang santun? Seorang anak diluar sana bisa saja menganggap perilaku bercanda yang kita anggap gaul adalah sesuatu yang keren untuk mereka contohi.  Mereka masih belajar, mereka masih di tahap menemukan hal-hal yang baru.

Mereka, siswa jaman sekarang, adalah generasi yang hebat untuk bangsa ini. Marilah kita mulai menggunakan tutur bahasa yang sopan dan berperilaku yang santun, sehingga kita bisa menjadi contoh yang keren untuk seorang anak diluar sana yang sedang memperhatikan kita.

Janganlah kita menodai kemurnian mereka dengan memberikan contoh yang salah, lalu bertanya, ada apa dengan Siswa Jaman Sekarang? (nad)

Penulis : Nada Nabila

You may also like

Leave a Comment