Mitos Seputar Jurusan IPA VS IPS

by Siti Nurul Hikmah

SiswaIndonesia.com, Malang – ketika kamu sudah menjadi siswa SMA (Sekolah Menengah Atas) tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah “penjurusan”. Berbeda dari penjurusan yang ada di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) yang lebih spesifik dan banyak pilihan jurusan, SMA hanya memiliki 2 hingga 3 jurusan saja. Diantara IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) dan beberapa sekolah memiliki jurusan Bahasa. Namun kali ini SiswaIndonesia.com hanya akan membahas 2 jurusan saja, yaitu IPA dan IPS.

Penjurusan sendiri memiliki maksud dan tujuan, yaitu agar anak-anak  bisa lebih fokus belajar terhadap salah satu rumpun ilmu pengetahuan. Misalnya, kamu memilih jurusan IPA, yang mana lebih fokus mempelajari tentang alam, maka fokus pelajaran yang kamu dapat seputar, Biologi, Kimia dan Fisika. Sementara jika kamu memilik jurusan IPS yang berfokus pada pembelajaran interaksi sosial, maka fokus pelajaranmu seputar Sosiologi, Geografi, Ekonomi dan Akutansi. Meski kimia, fisika dan biologi terdengar lebih sulit, tetapi pada kenyataanya ilmu sosial seperti sosiologi, gerografi dan ekonomi juga bukan hal yang bisa disepelekan loh.

Bintang Salsabila Rahmadani, siswa kelas XI IPS 3 di SMA Negeri 9 Malang ini dari awal lebih memilih jurusan IPS. Mengingat cita-citanya nanti menjadi seorang Diplomat ia dengan yakin memilih masuk IPS. Bintang pun tidak gegabah dalam memilih, sebelumnya ia sudah mendiskusikan kepada orang tua nya, syukurnya kedua orang tua Bintang setuju bahkan mendukung keinginan dan cita-cita anaknya. “Sejauh ini sih aku enjoy banget dan ngga nyesel masuk IPS, ini jurusan yang aku mau. Harapannya sih dengan masuk IPS bisa wujudin cita-cita ku di masa depan nanti, amin” Ujar Bintang kepada tim SiswaIndonesia.com (27/06).

Lain hal dengan Bintang, Mitha Ayunda Putri, atau yang lebih akrab di panggil Mitha ini saat pemilihan jurusan, ia lebih memilih jurusan IPA. Alasannya memilih IPA karena, ia menganggap dengan memilih jurusan ini, saat kuliah nanti, akan lebih banyak jurusan yang bisa ia pilih. Bisa saintek maupun soshum. Sama denga Bintang, ia pun merasa nyaman menjadi bagian dari anak IPA.

Sudah bukan suatu hal baru lagi, ketika kita mendengar bahwa anak dengan jurusan IPA lebih pintar dibanding dengan anak jurusan IPS. Tapi bukan berarti kata-kata tersebut sebuah kebeneran yang mutlak, hal tersebut hanya isapan jempol biasa, atau hanya mitos belaka. Anggapan seperti ini bukan hanya terjadi sekarang saja, tentu sudah bertahun-tahun lamanya stigma ini berlangsung, bahkan turun temurun. Disebut miskonsepsi, atau dalam pengertian kbbi, miskonsepsi merupakan salah pengertian, bisa juga kesalah pahaman. Beberapa poin dibawah ini akan sedikit menjelaskan, mengapa miskonsepsi ini terus berlangsung, diantaranya ;

  1. MITOS : Anak jurusan IPA lebih pintar-pintar, dibandingkan dengan anak IPS.

FAKTA : Apapun Jurusan yang kamu pilih, asal rajin belajar tentu kamu bagian dari anak-anak pintar, tanpa memandang berasal dari jurusan apa.

Menentukan masuk jurusan tentu berasal dari bakat dan minat siswa, tentu di beberapa sekolah masih mengandalkan tes untuk menentukan jurusan yang akan dipilih. Seringkali sekolah masih menetapkan hal kuno seperti, batas minimum untuk masuk jurusan IPA, apabila tidak memenusi batas minimum tadi, maka otomatis masuk jurusan IPS. Tidak pandang bulu, apakah minat mu disana atau tidak. Hal ini yang menyebabkan miskonsepsi semakin subur. Seharusnya, masuk jurusan bukan diliat dari nilai saja, tetapi minat belajarnya. Akan sangat kejam, jika anak memiliki minat bakat di bidang IPA, namun hanya karena nilai yang tidak sesuai, terpaksa mengubur impiannya dan masuk jurusan yang tidak diinginkan.

  1. MITOS : Anak jurusan IPA jago matematika, jago hitungan-hitungan.

FAKTA : Matematika merupakan ilmu pengetahuan murni. Tidak lebih berat pada ilmu alam maupun sosial.

Seringkali kita menganggap bahwa matematika dan hitung-hitungan banyak ditemui pada pelajaran seperti fisika dan kimia saja. Pada kenyataanya, dalam ilmu sosial pun tetap memerlukan ilmu matematika dan berhitung. Contohnya pada mata pelajaran ekonomi, khususnya akutansi. Kita dituntut untuk berhitung. Jadi yang mahir berhitung bukan hanya dari kalangan jurusan IPA saja, melainkan IPS pun juga. Stop mengotak-kotakan, agar kesalah pahaman seperti ini tidak semakin berkembang.

  1. MITOS : Hanya anak IPA yang bisa curi jurusan ketika masuk perguruan tinggi

FAKTA : IPA maupun IPS sama-sama bisa lintas jurusan.

Seringkali anak-anak IPA yang merasa salah jurusan selama di bangku sekolah, akan memilih jurusan SOSHUM di tingkat perguruan tinggi. hal ini membuat anak-anak IPS merasa lebih berat untuk bersaing. Mereka menganggap, bersaing dengan sesame anak IPS saja sudah sulit, apalagi jika berhadapan dengan anak-anak IPA yang terkenal lebih pintar. Tidak sedikit anak IPS yang akan merasa kesal, karena merasa lahannya direbut oleh anak IPA. Padahal pada praktiknya, bukan hanya anak IPA saja yang bisa lintas jurusan, anak IPS pun apabila ia mau dan berkenan pun bisa ambil alih lahan anak IPA. Dengan mengikuti program IPC (Ilmu Pengetahuan Campuran) siapapun kamu, bisa dari IPA maupun IPS bisa mengambil lintas jurusan ketika di perguruan tinggi. Yang menentukan masuk atau tidak bukan dari jurusan saat SMA, melainkan dari seberapa besar niat dan usaha kamu.

Zaman sudah jauh berkembang, namun sangat disayangkan jika anggapan-anggapan seperti ini masih saja sering terdengar. Pintar nya seseorang bukan hanya dinilai dari jurusan mana ia berasal. Tidak selalu anak IPS, anak yang bodoh dan pemalas. Diluar sana banyak yang menemukan jalan suksesnya meski ia dulunya memilih jurusan IPS. Begitu pula dengan anak IPA. Anak dengan jurusan apapun, IPA maupun IPS tetap bisa pintar dan menjadi unggulan, asalkan mau berusaha belajar dengan giat. Yuk mulai sekarang, stop mengkotak-kotakan anak berdasarkan jurusan. Kalau bukan dimulai dari kita, dari siapa lagi? (hkmh)

 

Penulis : Siti Nurul Hikmah

Editor : Anisa Mahiswari

You may also like

Leave a Comment