OPINI: Miris, Gaya Pacaran Pelajar SMA Masa Kini

by admin

ilustrasi. @1.bp.blogspot.com

SiswaIndonesia.id, Malang – Hurlock mengungkapkan bahwasanya masa remaja berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa, mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik. Peralihan dari masa anak ke masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki dewasa. Dalam masa ini kondisi kepribadian psikologis remaja juga mulai berkembang. Seperti mulai munculnya kebutuhan untuk berinteraksi lebih dan bergaul dengan lawan jenis.

Generasi muda adalah generasi penerus bangsa ini. Lantas bagaimana jika generasi muda kita dewasa ini sudah kehilangan nilai budaya dan adat dalam pergaulan mereka sehari-hari. Jaman yang makin modern menjadi salah satu faktor yang membuat gaya berpacaran anak SMA saat ini pun juga ikut ter-westernisasi. Meniru gaya berpacaran dan bergaul ala barat yang notabenenya tidak sesuai dengan adat ketimuran yang berlaku di negara kita.

Mempunyai pacar di usia sekolah kini sudah seperti suatu keharusan tersendiri. Memposting foto sampai video bersama pacar setiap waktu diyakini dapat memberikan rasa bangga pada mereka. Hal itu dimaksudkan untuk menunjukkan kepada teman-teman mereka atau pun khalayak tentang hubungan mereka.

Pelajar SMA yang bermesraan di tempat umum bahkan ketika masih mengenakan seragam juga sering kita temui di sekitar kita. Mereka tidak malu untuk berpegangan tangan, memeluk bahkan saling berciuman di depan umum. Mirisnya mereka menganggap hal itu hal yang romantis dan malah membuat iri orang yang melihat. Karena saking banyaknya fenomena serupa kini cara pandang seusia mereka tentang hubungan berpacaran menjadi seragam. Tentu saja seragam yang dimaksud adalah seragam dengan pemikiran yang tidak benar.

Relationship goals, istilah yang seolah menjadi tujuan pencapaian dalam hubungan pacaran pelajar kita saat ini. Tak jarang demi mencapai hal itu mereka melakukan hal-hal yang sering disebut antimainstream agar menjadi viral atau sekedar untuk mendapat pujian maupun komentar dari teman-temannya. Maka bermunculanlah challange di media social seperti berfoto mencium ketiak pacar, berfoto dengan memegang payudara pacar, bahkan ada yang sampai memposting video atau pun foto syur bersama pacar. Begitulah makin hari makin rusaknya gaya berpacaran pelajar SMA kita.

Usia SMA merupakan usia untuk senang mencoba hal-hal baru. Mereka biasanya merasa lebih tertantang untuk melakukan hal-hal yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Tentu saja hal ini yang akan merangsang untuk memunculkan sikap coba-coba. Tak heran jika makin hari pemberitaan tentang penyimpangan yang dilakukan oleh anak usia SMA juga makin banyak. Kasus penyimpangan yang sering kita dengar adalah kabur bersama pacar, sampai kehamilan pelajar SMA akibat hubungan pacaran yang melewati batas.

Sexting saat ini seperti sudah melekat dengan hubungan berpacaran pelajar SMA sederajat kita saat ini. Hal itu kini kian marak dan makin dianggap biasa. Terbukti dengan banyaknya kasus kehamilan para pelajar yang masih duduk di bangku sekolah. Mirisnya hal ini terjadi di sekitar kita sendiri. Dan seringnya jika kehamilan sudah terjadi mau tidak mau harus meninggalkan sekolah mereka dan harus kehilangan kesempatan untuk mewujudkan cita-cita mereka.

Tidakkah para pelajar menyadari akibat dari pergaulan kebablasan serta gaya berpacaran yang makin ngawur di tengah para pelajar SMA kita ini? Bukan hanya merugikan diri mereka sendiri, namun juga merugikan orang tua dan pihak sekolah tempat dimana mereka menuntut ilmu. Orang tua yang mengusahakan anak-anak mereka mendapat pendidikan yang tinggi, harus mengubur impian mereka. Para guru yang setiap hari menanamkan pembelajaran tentang karakter dan mengharapkan yang terbaik untuk para siswanya pun juga harus rela menelan pil pahit itu.

Maka dari itu sebagai generasi yang menjadi harapan besar bagi setiap pihak, harusnya bisa lebih bijaksana dalam bertindak dan menentukan pilihan. Fokus mencari ilmu dan memperkaya pengetahuan merupakan hal yang tepat dilakukan untuk usia mereka saat ini. Jika bergaul, bergaul sewajarnya saja, berteman dan membangun hubungan yang sehat dengan setiap orang. Masa depan yang cerah adalah tujuan, maka jangan ciptakan hambatan-hambatan yang sebenarnya bisa untuk dihindari. (krn)

Penulis   : Risky Karina Putri

You may also like

Leave a Comment