Mengapa pernikahan dini masih terjadi?

by Anisa Mahiswari

SiswaIndonesia.com, Malang – Di Indonesia pernikahan dini masih menjadi hal yang cukup ramai diperbincangan oleh masyarakat. Berbagai pendapat dan pandangan muncul dengan adanya fenomena ini. Ada sebagian orang yang beranggapan bahwa pernikahan dini merupakan hal yang positif karena menghiadari perzinahan, namun sebagian orang juga mengganggap bahwa hal ini tidak baik terutama untuk kesehatan mental anak dibawah umur.

Meski mampu menghindarkan dari perzinahan, namun pernikahan dini tidak semudah yang dibayangkan. Karena untuk memasuki jenjang pernikahan dibutuhkan kesiapan finansial dan ekonomi yang matang. Pernikahan tidak semudah yang dibayangkan, apabila mental seseorang belum siap dengan pernikahan malah akan menjerumuskan kedalam hal yang tidak baik.

Pernikahan usia muda cenderung memiliki banyak tantangan dan mendatangkan beragam resiko jika tidak dipertimbangkan secara matang. Melalui peraturan perundang-undangan di Indonesia UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 batas minimal usia untuk menikah adalah 19 tahun baik laki-laki maupun perempuan. Tetapi pernikahan dini  yang dimaksud dalam Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah pernikahan yang dilakukan pada usia kurang dari 21 tahun.

Menurut alodokter.com Pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan sebelum mencapai usia 18 tahun. Selain bisa berdampak buruk bagi kesehatan, pernikahan dini juga berpotensi memicu kekerasan seksual dan pelanggaran hak asasi manusia.

Salah satu faktor utama terjadinya pernikahan dini adalah terkait perekonomian. Beberapa  orang tua memilih untuk menikahkan anak perempuannya yang masih belia atau remaja untuk dinikahi oleh pria dewasa yang memiliki perekonomian mapan dengan harapan anaknya dapat memiliki kehidupan yang lebih layak setelah menikah. Sungguh ironis bukan? Padahal remaja tersebut masih bisa memiliki masa depan yang lebih cerah apabila pendidikannya dapat berjalan dengan baik.

Hal ini juga terjadi karena sebagian orang tua beranggapan apabila anak dinikahkan akan mengurangi beban orang tua sehingga hidup anak tersebut akan ditanggung oleh pasangannya setelah menikah. Tidak sedikit juga orang tua yang menganggap setelah menikah kehidupan si anak akan lebih baik lagi. Pernikahan dini masih banyak terjadi pada golongan masyarakat menengah kebawah. Apabila pernikahan dini terus terjadi anak tidak akan bisa melanjutkan pendidikan sehingga inilah yang akan terus memperpanjang rantai kemiskinan.

Pernikahan dini tentu bukanlah satu-satunya solusi agar anak hidup lebih layak. Pendidikan yang baik dan bimbingan orang tualah yang akan mengantarkan anak menuju masa depan yang cerah. Dengan mengedepankan pendidikan, cita-cita anak bisa tercapai sehingga akan membawa keluarga kepada kehidupan yang lebih layak. Setiap anak yang dilahirkan kedunia pasti memiliki kelebihan dan potensi, dengan hal ini orang tua bisa mengasahnya dan membimbingnya menuju jalan yang terbaik.

Dengan dilakukannya pernikahan dini justru akan meninbulkan resiko terhadap anak. Sebab pernikahan tidak semudah yang dibayangkan. Pasalnya, banyak tekanan yang akan menghampiri pasangan muda yang telah menikah mulai dari masalah finansial, kesiapan mental, tekanan sosial, hingga kurangnya pengalaman dalam menghadapi masalah pernikahan.

 

You may also like

Leave a Comment