OPINI: Masih Perlukah Ujian Nasional?

by admin

Seorang siswa yang tak mengenal tempat untuk belajar (Alvin/siswaindonesia)

SiswaIndonesia.id, Malang – Ujian Nasional atau yang sering di singkat UN sekarang ini masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian banyak orang. Mulai dari siswanya sendiri, orang tua peserta didik, sampai ke guru dan pemerhati pendidikan ada yang pro dan kontra dalam menyikapi Ujian Nasional tersebut.

Waktu Ujian Nasional yang terdengar akan segera dimulai, memang memicu banyak perubahan di sekolahan khususnya bagi siswa kelas XII. Guru-guru mulai sering mengingatkan tentang Ujian Nasional, para guru mulai merencanakan persiapan secara resmi (dari guru) atau dari siswa sendiri baik secara individu maupun kelompok. Selain itu hal yang menarik bagi saya adalah melihat fenomena para siswa yang lebih religius untuk meminta pertolongan kepada yang Maha Kuasa untuk memudahkan Ujian Nasional mereka.

Belum lama ini usulan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy tentang Moratorium Ujian Negara tidak disetujui. Artinya UN tetap jalan terus bagi para siswa. Keputusan ini diambil dalam sidang kabinet di kantor Presiden. Meskipun perlu dikaji ulang, intinya pelaksanaan Ujian Nasional tetap berjalan terus.

Negara sendiri perlu mengetahui sampai dimana tingkat keberhasilan pendidikan yang ada di bangsa kita saat ini. Kata pendidikan saat ini diwakili oleh institusi sekolahan, jika sekolah berhasil, maka pendidikan juga berhasil. Penilaian terhadap keberhasilan dalam pendidikan banyak indikator penilaiannya. Salah satunya adalah jika sekolah tersebut berhasil dalam penilaian yang obyektif pada akreditasi sekolah. Tetapi berkaitan dengan Ujian Nasional, sekolah yang berhasil menurut negara adalah sekolah yang sukses melaksanakan Ujian Nasional dengan nilai yang baik.

Jika saya amati Ujian Nasional sendiri mempunyai nilai positif dan negatif di dalamnya.

Pertama, nilai positif Ujian Nasional. Ujian Nasional sendiri perlu diakan karena untuk mengetahui daya pencapaian target standar nasional yang sudah ditetapkan. Dengan itu, pemerintah akan mengetahui daerah yang sudah mampu maupun belum mampu mencapai target, sehingga pemerintah bisa langsung mengambil tindakan untuk meningkatkan pendidikan daerah tersebut.

Peraturan pelaksaan Ujian Nasional membuat para siswa semakin rajin belajar dan akan memacu semangat daya berfikir mereka sehingga bisa menjadikan siswa lebih maju. Sehingga guru pun semakin giat dan lebih berhati-hati dalam mengajar para siswanya. Selain itu Ujian Nasional menjadi titik temu antara guru sebagai pelaku evaluasi dengan kewenangan pemerintah dalam mengendalikan mutu pendidikan nasional.

Kedua, nilai negatif dari Ujian Nasional adalah guru harus lebih membimbing ekstra siswa selama berbulan-bulan dan jam pelajaran tambahan pun diperlukan. Sehingga secara tidak langsung telah mengurangi kesempatan guru-guru tersebut untuk mengukur kemampuan mengajarnya karena patokan utamanya adalah siswa lulus 100%.

Selain itu penyamarataan soal Ujian Nasional merugikan, karena kondisi dari masing-masing sekolah sangat beragam. Sekolah yang berada di kota-kota besar mempunyai potensi yang lebih unggul, karena didukung oleh sarana dan prasarana yang lengkap mendukung potensi siswa yang ada di kota. Hal ini jauh berbeda dengan sekolah-sekolah yang berada di pedesaan ataupun pelosok.

Dengan ketimpangan yang seperti ini, sering kali terjadi kecurangan pada saat ujian, seperti bocoran soal dan kunci jawaban serta guru yang membantu siswa. Sehingga hasil yang didapatkan siswa bukanlah hasil yang murni, walaupun nilai siswa tersebut tinggi. Hal tersebut mengakibatkan kedepannya yang berdampak pada pengangguran, karena nilai yang diperoleh tidak sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki.

Dengan demikian bisa kita lihat bahwa Ujian Nasional hanya melihat kemampuan psikomotor saja sehingga siswa yang pintar disekolahpun bisa tidak lulus. Bisa saja karena gugup pada saat ujian dengan pengawasan yang ketat, atau ada masalah pada diri siswa sehingga tidak dapat berkonsentrasi pada saat ujian. (feb)

Penulis           : Alvin Febriawan

You may also like

Leave a Comment