Maraknya Cyber Bullying di Media Sosial

by Anisa Mahiswari

SiswaIndonesia.com, Malang – Fenomena media social sangat mempengaruhi pola kehidupan masyrakat. Mudahnya mengakses dan mencari informasi membuat media social menjadi hal yang paling diminati saat ini. Beragam fitur dan fasilitas yang disediakan, memberikan banyak kemudahan dalam melakukan kegiatan. Saat ini hampir semua kalangan mempunyai media social, Dari orang dewasa, remaja, hingga anak-anak sekalipun sudah mahir menggunakannya. Apakah kamu salah satu pengguna aktif media social? Jika iya, sebaiknya tetaplah berhati-hati dan bijak untuk menggunaknannya ya. Jangan sampai penggunaan media social membawamu kedalam hal-hal yang tidak baik.

Beragam persoalan muncul dengan hadirnya media social, pasalnya masih banyak orang yang menyalahgunakan media social. Salah satunya cyber bullying, tak jarang remaja terjerat dalam kasus tersebut. Kebanyakan remaja tidak sadar telah melakukan ataupun menjadi korban dari cyber bullying. Biasanya hal ini terjadi ketika ada kesalahpamaham atau perbedaan pendapat terhadap suatu fenomena. Karena tidak saling bertatap muka, maka terjadilah perundungan melalui media sosial. Bullying ini sering dilakukan pada kolom komentar dan pesan pribadi untuk menyerang korbannya. Padahal cyberbullying meninggalkan jejak digital – sebuah rekaman atau catatan yang dapat berguna dan memberikan bukti ketika membantu menghentikan perilaku salah ini.

Menurut unicef.org Cyberbullying (perundungan dunia maya) ialah bullying/perundungan dengan menggunakan teknologi digital. Hal ini dapat terjadi di media sosial, platform chatting, platform bermain game, dan ponsel. Adapun menurut Think Before Text, cyberbullying adalah perilaku agresif dan bertujuan yang dilakukan suatu kelompok atau individu, menggunakan media elektronik, secara berulang-ulang dari waktu ke waktu, terhadap seseorang yang dianggap tidak mudah melakukan perlawanan atas

tindakan tersebut. Jadi, terdapat perbedaan kekuatan antara pelaku dan korban. Perbedaan kekuatan dalam hal ini merujuk pada sebuah persepsi kapasitas fisik dan mental.

Cyberbullying merupakan perilaku berulang yang ditujukan untuk menakuti, membuat marah, atau mempermalukan mereka yang menjadi sasaran. Contohnya termasuk:

  • Menyebarkan kebohongan tentang seseorang atau memposting foto memalukan tentang seseorang di media sosial
  • Mengirim pesan atau ancaman yang menyakitkan melalui platform chatting, menuliskan kata-kata menyakitkan pada kolom komentar media sosial, atau memposting sesuatu yang memalukan/menyakitkan
  • Meniru atau mengatasnamakan seseorang (misalnya dengan akun palsu atau masuk melalui akun seseorang) dan mengirim pesan jahat kepada orang lain atas nama mereka.
  • Trolling – pengiriman pesan yang mengancam atau menjengkelkan di jejaring sosial, ruang obrolan, atau game online
  • Mengucilkan, mengecualikan, anak-anak dari game online, aktivitas, atau grup pertemanan
  • Menyiapkan/membuat situs atau grup (group chat, room chat) yang berisi kebencian tentang seseorang atau dengan tujuan untuk menebar kebencian terhadap seseorang
  • Menghasut anak-anak atau remaja lainnya untuk mempermalukan seseorang
  • Memberikan suara untuk atau menentang seseorang dalam jajak pendapat yang melecehkan
  • Membuat akun palsu, membajak, atau mencuri identitas online untuk mempermalukan seseorang atau menyebabkan masalah dalam menggunakan nama mereka
  • Memaksa anak-anak agar mengirimkan gambar sensual atau terlibat dalam percakapan seksual.

Bullying secara langsung atau tatap muka dan cyberbullying seringkali dapat terjadi secara bersamaan. Namun cyberbullying meninggalkan jejak digital – sebuah rekaman atau catatan yang dapat berguna dan memberikan bukti ketika membantu menghentikan perilaku salah ini.

Menurut Jurnal Penelitian yang ditulis oleh Yana Choria Utami Cyberbullying lebih mudah dilakukan daripada kekerasan konvensional karena si pelaku tidak perlu berhadapan muka dengan orang lain yang menjadi targetnya. Korban yang terkena cyberbullying juga jarang yang melaporkan kepada pihak yang berwajib, sehingga banyak orang tua yang tidak mengetahui bahwa anak-anak mereka terkena bullying di dalam dunia maya.

Masalah cyberbullying ini muncul dikarenakan intensitas penggunaan internet yang meningkat dan munculnya media sosial, yang sering diakses para siswa. Mengakses dunia maya merupakan sebuah habitus (kebiasaan) yang dilakukan para siswa selain mereka belajar. Intensitas penggunaan dunia maya para siswa dalam satu hari mereka mengakses minimal 6 jam. Mereka mereka akan menerima dampak negatif akibat terlalu sering mengakses dunia maya, yaitu para remaja menjadi malas belajar, serta dampak paling buruk mereka akan menerima cyberbullying.

Nah, ingat ya cyber bullying memiliki dampak yang cukup besar terhadap korbannya baik secara mental,  emosional maupun secara fisik. Sehingga berpikirlah sebelum menulis agar tidak menyakiti dan membuat orang lain merasa tidak nyaman. Sebab media social sangat rentan dengan kasus bullying dan ingat selalu bahwa apa yang kalian lakukan akan meninggalkan jejak digital.

You may also like

Leave a Comment