OPINI: Kesalahpahaman yang Berakibat Keresahan

by admin

(sumber: google.com)

SiswaIndonesia.id, Malang – Masa-masa SMA adalah masa yang paling indah, masa dimana kebanyakan dari kita menemukan cinta pertama kita, melanggar pengaturan yang ada disekolah, belajar organisasi, hingga membuat sebuah event dalam skala tertentu. Dari masa SMA juga lah kebanyakan dari kita dapat beradaptasi dengan mudah ketika memasuki masa kuliah, karena terkadang secara tidak langsung kita mengasah skill yang kita sendiri tidak tahu bahwa kita punya bakat dibidang itu.

Bisa dibilang bahwa masa SMA adalah ‘batu loncatan’ bagi sebagian siswa dalam menemukan skill atau bakat yang dimiliki oleh siswa, sehingga bisa kita lihat bahwa sangat banyak sekali event tentang anak SMA, mulai dari yang akademik sampai yang non-akademik. Event non-akademik yang paling diminati biasanya ada lomba futsal dan basket, bahkan untuk basket sendiri sudah mempunyai ajang nasionalnya, ajang yang pasti sangat ditunggu oleh anak SMA, yaitu Developmental Basket League atau biasa kita kenal dengan istilah DBL.

Untuk event akademik biasanya ada lomba cerdas cermat, debat, olimpiade dan masih banyak lagi, intinya event-event ini semata-mata untuk menunjang kemampuan dari anak SMA sendiri. Ada juga pihak-pihak dari luar sekolah yang turut dalam mendukung keberlangsungan dari event-event yang diselenggarakan, mungkin dari sebuah instansi, perusahaan, media, dan event organizer sekalipun.

Inti dari semuanya adalah tentang bagaimana indahnya masa SMA, indahnya masa-masa kita berkembang menjadi seorang manusia yang lebih baik, lebih dewasa, dan lebih bijak. Dari sekian banyak kegiatan yang saya sebutkan diatas, sudah bisa dipastikan bakal adanya pihak ketiga yang akan mendukung kebutuhan mereka.

Pada tulisan saya ini saya akan menitik beratkan pada dua kegiatan yang saya rasa paling banyak terjadi kesalahpahaman dengan pihak ketiga atau eksternal sekolah, yang mengakibatkan adanya anggapan bahwa sekolah melakukan pungutan liar (pungli). Istilah pungli sendiri mulai ramai dibicarakan semenjak tahun 2017, beberapa kejadian yang melibatkan langsung jajaran pengurus sekolah bahkan kepala sekolah sekaligus.

Di Jawa Timur sendiri ada beberapa kawan saya yang menyiadakan jasa pembuatan buku tahunan sekolah dan pembuatan kaos, mereka memulai usaha tersebut sudah dari tahun 2004 untuk yang agensi buku tahunan dan 2015 jasa buat kaos. Buku tahunan sekolah merupakan sebuah kebutuhan yang wajib ada bagi anak SMA, karena disitulah semua kenangan mereka terbungkus rapi dalam sebuah buku dan packaging yang mereka inginkan, sedangkan pembuatan kaos biasanya digunakan untuk supporter pendukung basket ketika ajang DBL berlangsung.

Sejak awal adanya usaha itu (agensi buku tahunan dan jasa pembuatan kaos) bisa dikatakan mereka mendapatkan banyak keuntungan, mulai dari jumlah pemesanan yang tinggi hingga spesifikasi premium yang diinginkan. Ada kalanya buku tahunan sekolah dan baju supporter ini menjadi sebuah trend untuk menaikkan gengsi sekolah mereka, walaupun itu cuman sebatas ‘gengsi’ yang mereka nilai sendiri. Tidak heran jika ada beberapa agensi buku tahunan dan jasa pembuatan kaos ternama yang menjadi langganan bagi beberapa SMA di Jawa Timur khususnya.

Kebiasaan yang terjadi disekolah ketika ada hal ini (pembuatan buku tahunan sekolah dan pembuatan kaos supporter) selalu ditangani oleh siswa langsung, tanpa adanya campur tangan dari pihak sekolah. Alhasil jika ada sesuatu hal yang tidak diingkan terjadi, maka bakal balik lagi, nama sekolah lah yang akan digunakan oleh para siswa, sehingga terkadang pihak sekolah dituduh melakukan pungutan liar atau pungli.

Setiap agensi buku tahunan selalu mempunyai track record nya masing-masing, ada yang bersih tanpa catatan buruk sedikitpun, ada juga yang banyak catatannya buruknya. Untuk daerah Jawa Timur sendiri memang ada beberapa agensi buku tahunan yang dicap kurang baik oleh beberapa sekolah karena beberapa faktor, pertama attitude, kedua harga buku yang tidak masuk akal, dalam artian terlalu mahal untuk ukuran anak SMA, dan ketiga punya catatan buruk ditahun sebelumnya.

Ketika teman saya memulai bisnis agensi buku tahunan sekolah ini, dapat dikatakan bahwa belum ada kompetitornya, itu 14 tahun lalu, ketika agensi yang dia buat berhasil menjadi pelopor dalam bisnis ini. Tapi keadaan itu sudah berbeda 360 derajat, kompetitor dibidang buku tahunan sudah menjamur, layaknya semut yang ada pada sesendok gula. Berbagai carapun dilakukan guna mendapat sekolah, guna mendapatkan sesuap nasi, entah pantas atau tidak cara yang digunakan.

Sebuah agensi buku tahunan yang saya samarkan namanya disini sebagai A, sering kali melakukan proses dealing dengan membujuk anaknya dengan iming-imingan tertentu, sehingga agensi tersebut dapat dimenangkan ketika proses tender berlangsung. Cara yang mereka lakukan biasanya adalah memberikan penawaran kepada panitia buku tahunan sekolah berupa fresh money dengan jumlah yang cukup besar, kisaran diangka 10-15 juta, alibi yang mereka adalah untuk mensupport event sekolah yang mereka adakan, khususnya masalah financial, dengan feedback mereka harus membuat buku tahunan sekolahnya diagensi tersebut.

Awalnya memang tidak menjadi sebuah masalah, tapi secara bertahap hal ini menjadi PR bagi pihak sekolah, kompetitor agensi buku tahunan yang telah menjamur berakibat persaingan antar agensi menjadi sangat ketat, sangat sulit bagi sebuah agensi untuk mendapatkan 10 sekolah dalam jangka waktu satu tahun. Alhasil berbagai cara pun dilakukan oleh para pelaku agensi, salah satunya yang cukup berbahaya adalah menawarkan fresh money yang besar, sehingga para klien memilih agensi tersebut.

Tidak jarang nominal dari fresh money yang ditawarkan sangat lah besar, hingga puluhan juta rupiah, padahal cara para agensi memutar uang adalah dengan meninggikan harga buku tahunan mereka, agar fresh money yang telah diberikan diawal bisa kembali lagi dengan jumlah yang sama bahkan lebih. Yang selal menjadi tolok ukur dari sebuah harga buku tahunan adalah harga tahun kemarin, itulah yang akan menjadi patokan setiap anak SMA dalam menentukan harga dan agensi yang akan mereka pilih.

Dengan harga perbuku yang cukup mahal, ditambah dengan banyaknya pengeluaran bagi siswa kelas 3 sendiri, mulai dari biaya bimbingan belajar, wisuda, sampai yang lainnya. Beberapa sekolah ada yang membiarkan masalah buku tahunan sekolah ini diurus sendiri oleh para siswa, akan tetapi tetap pada akhirnya nama sekolah lah yang akan dicatut oleh para siswa ketika ditanya para orang tua. Para agensi yang melakukan hal seperti itu (memberikan penawaran fresh money yang tinggi) sangat jarang berani untuk bertemu dengan pihak guru, karena harga yang mereka tawarkan sangat mahal untuk ukuran anak SMA, sehingga ketika para orang tua dimintai uang oleh anaknya untuk membuat buku tahunan, yang itu harganya cukup mahal, kebanyakan dari orang tua akan complain kepada pihak sekolah, dan biasanya para orang tua ini langsung menjustifikasi bahwa adanya pungli. Padahal jika ada koordinasi yang jelas dari pihak sekolah, panitia pengadaan buku tahunan, dan pihak ketiga yang merupakan agensi buku tahunan, peristiwa ini tidak akan terjadi, mengingat bahwa buku tahunan sekolah ini juga menjadi sebuah ‘kebanggaan’ tersendiri bagi anak SMA.

Fenomena pungli sangat ramai akhir-akhir ini, bahkan Kementrian Kebudayaan dan Pendidikan (kemendikbud) membuat sebuah website khusus untuk mengetahui disekolah mana yang terjadi pungli, website tersebut adalah http://laporpungli.kemdikbud.go.id, siapaun bisa mengakses website ini guna melaporkan jika ada terjadi pungutan liar disekolah. Kalau melihat secara menyeluruh, hal ini terjadi karena sebuah kesalahan pahaman, tapi mengakibatkan keresahan yang cukup mendalam, hendaknya dari pihak sekolah mengadakan sebuah lembaga khusus, atau dewan pengawas kegiatan para siswa dengan pihak ketiga atau eksternal sekolah dalam bidang apapun, sehingga tidak terjadi lagi persitiwa macam ini. (dni)

 

Penulis             : Ahmad Ridhani Denie Rahman

 

 

You may also like

Leave a Comment