Jarang Disadari, Banyak Remaja Menjadi Korban Pelecehan Seksual

by Anisa Mahiswari

SiswaIndonesia.com, Malang – Pelecehan seksual akhir-akhir ini cukup meresahkan masyarakat, persoalan ini masih menjadi masalah yang cukup serius di Indonesia. Namun pengetahuan masyarakat akan permasalahan pelecehan seksual masih tergolong rendah. Mayoritas pelecehan seksual ini terjadi pada rentang usia 13-24 tahun. Di Indonesia, manusia yang rawan terkena pelecehan seksual adalah wanita, namun untuk saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa ada juga kasus pelecehan perempuan terhadap laki-laki, dan juga dengan sesama jenis (baik sesama laki-laki maupun perempuan).

Dilansir dari hellosehat.com menurut Komnas Perempuan, pelecehan seksual merujuk pada tindakan bernuansa seksual yang disampaikan melalui kontak fisik maupun non-fisik, yang menyasar pada bagian tubuh seksual atau seksualitas seseorang. Tindakan ini termasuk siulan, main mata, komentar atau ucapan bernuansa seksual, mempertunjukkan materi-materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual, sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin hingga menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan.

Kurangnya edukasi tentang seks membuat sebagian remaja menjadi korban pelecehan seksual. Tanpa disadari pelecehan secara non-verbal sering terjadi pada remaja. Sayangnya, masih banyak yang menganggap ini bukan masalah besar karena rendahnya pengetahuan seks. Banyak Remaja perempuan akan sadar ketika ada yang menyentuh bagian tubuhnya atau melakukan tindakan yang tidak nyaman terhadap tubuhnya itu merupakan bentuk pelecehan seksual, padahal tindakan non-verbal juga dapat menjadi jenis pelecehan seksual.Akibatfenomena seperti inimasih banyak remaja perempuan yang belum menyadari jika dirinya merupakan korban dari kekerasan seksual.

Banyak orang yang masih belum menyadari apa saja perilaku pelecehan seksual, bahkan bisa saja kita melihat kejadian tersebut secara langsung, namun karena masih dianggap remeh sering kali kita mengacuhkannya. Menurut hellosehat.com pelecehan seksual dibagi menjadi 5 jenis, yaitu:

Jenis-jenis pelecehan seksual

  1. Pelecehan gender: Pernyataan dan perilaku seksis yang menghina atau merendahkan wanita. Contohnya termasuk komentar yang menghina, gambar atau tulisan yang merendahkan wanita, lelucon cabul atau humor tentang seks atau wanita pada umumnya.

 

  1. Perilaku menggoda: Perilaku seksual yang menyinggung, tidak pantas, dan tidak diinginkan. Contohnya termasuk mengulangi ajakan seksual yang tidak diinginkan, memaksa untuk makan malam, minum, atau kencan, mengirimkan surat dan panggilan telepon yang tak henti-henti meski sudah ditolak, serta ajakan lainnya.

 

  1. Penyuapan seksual: Permintaan aktivitas seksual atau perilaku terkait seks lainnya dengan janji imbalan. Rencana mungkin dilakukan secara terang-terangan atau secara halus.

 

  1. Pemaksaan seksual: Pemaksaan aktivitas seksual atau perilaku terkait seks lainnya dengan ancaman hukuman. Contohnya seperti evaluasi kerja yang negatif, pencabutan promosi kerja, dan ancaman pembunuhan.

 

  1. Pelanggaran seksual: Pelanggaran seksual berat (seperti menyentuh, merasakan, atau meraih secara paksa) atau penyerangan seksual.

 

 

Menurut perilakunya, pelecehan seksual dibagi menjadi 10 jenis, yaitu:

  1. Komentar seksual tentang tubuh Anda
  2. Ajakan seksual
  3. Sentuhan seksual
  4. Grafiti seksual
  5. Isyarat seksual
  6. Lelucon kotor seksual
  7. Menyebarkan rumor tentang aktivitas seksual orang lain
  8. Menyentuh diri sendiri secara seksual di depan orang lain
  9. Berbicara tentang kegiatan seksual sendiri di depan orang lain
  10. Menampilkan gambar, cerita, atau benda seksual

 

Menurut Jurnal Penelitian yang tulis oleh N.K. Endah Triwijati , Banyak faktor yang mendasari mengapa korban kesulitan untuk dapat mengidentifikasi dan menerima pelecehan seksual yang ia alami, yaitu: kebingungan (tidak tahu bagaimana harus menggam-barkan pada dirinya sendiri tentang apa yang terjadi), rasa malu, sikap mempersalah – kan korban oleh orang lain, dan memposisikan korban menjadi “yang bersalah” seperti atribusi cara berpakaian, gaya hidup dan kehidupan pribadi menjadi mengemuka, alih -alih pengusutan terhadap peristiwa pelecehan; rasa bersalah pada apa yang terjadi, mempersalahkan diri sendiri, rasa dipermalukan (tidak bisa menerima ide bahwa ia adalah korban, atau perasaan bahwa seharusnya ia dapat menghentikan pelecehan itu), penyangkalan (tidak mau percaya bahwa hal itu sungguh terjadi), minimizing atau defence mechanism (mengatakan pada diri sendiri bahwa “itu bukan persoalan besar,” “saya terlalu sensitif saja,” atau “saya adalah pemalu”).

 

Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan agar terhindar dari pelecehan seksual :

  1. Mengatakan “Tidak”saat kita merasa kurang nyaman terhadap tindakan seseorang.
  2. Beritahu kepada orang terdekatmu tentang apa yang terjadi, jangan takut dan jangan menyimpan persoalan ini sendirian karena hal ini dapat menggangu mental dan psikismu. Dengan berdiam diri permasalahan tersebut tidak akan selesai bahkan jika kamu mengatakannya kemungkinan akan dapat membantu adalah bahwa kamu bukan satu-satunya korban yang dilecehkan. Berbicara dapat membantu dalam menemukan dukungan dan juga melindungi orang lain agar tidak menjadi korban selanjutnya.
  3. Mencari tahu siapa yang bertanggung jawab untuk menangani pelecehan
  4. Jika kamu mengalami tekanan psikologis atau trauma akibat pelecehan tersebut, kamu juga dapat berkonsultasi pada psikolog atau terapis yang profesional akan kesehatan mental dan mengerti masalah yang disebabkan oleh pelecehan seksual.

Nah, setelah beberapa penjelasan diatas bagi kalian remaja perempuan harus lebih berhati-hati pada tindakan seseorang terutama kepada orang yang tidak dikenal. Apabila kamu mengalami perlakuan ini, jangan segan untuk melapor ke lembaga-lembaga yang menawarkan perlindungan terhadap korban pelecehan seksual karena pelecehan seksual bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan.

You may also like

Leave a Comment