Jangan Terjebak! Hindari toxic positivity

by Anisa Mahiswari

SiswaIndonesia.com, Malang Beberapa waktu lalu kita sudah pernah membahas tentang apa itu Toxic Positivity. Sedikit penjelasan lagi tentang Toxic Positivity merupakan kondisi dimana seseorang menuntut diri agar selalu berpikir dan bersikap positif  dalam situasi apapun serta menolak emosi negatif. Saat ini pada media social sering sekali kita jumpai istilah “having a positive attitude”, “Good vibes only”, atau “Be happy” istilah ini merupakan semangat yang positif yang bisa diberikan untuk diri sendiri. Memiliki pikiran dan sikap positif bukan suatu hal yang buruk. Bersikap dan berpikir positif dalam suatu situasi memang sangat diperlukan oleh kita, karena dengan hal itu kekuatan dalam diri akan muncul. Ketika kamu bisa mengolah hal positif tentu akan menjadi pegangan dalam menjalankan hidup.

Namun sesuatu yang berlebihan itu memang tidak baik, begitu juga dengan sikap dan pikiran yang positif. sikap positif yang berlebihan dapat berakhir menjadi racun. Mengapa demikian? Karena sikap positif yang berlebihan kadang membuat seseorang malah menjadi toxic dan akan membuat orang yang mendengarnya merasa tidak lebih baik.

Toxic Positivity sering terjadi melalui ucapan. Sering kali seseorang memberi saran yang terkesan positif, tetapi sebenarnya hal itu malah membuat seseorang membungkam emosi negatif yang dimiliki. Padahal berpikir positif bukanlah satu-satunya cara yang selalu bisa digunakan dalam menghadapi semua masalah. Dukungan dari orang lain dan keyakinan terhadap diri sendiri juga menjadi faktor keberhasilan dalam menghadapi tantangan hidup. Jika memaksa untuk berpikir positif dan terjadi secara berlebihan malah akan menjadi Toxic Positivity.

Melansir dari alodokter.com ada beberapa hal yang menandakan seseorang sedang terjebak di dalam toxic positivity, antara lain:

  • Menyembunyikan perasaan yang sebenarnya sedang dirasakan
  • Terkesan menghindari atau membiarkan masalah
  • Merasa bersalah ketika merasakan atau mengungkapkan emosi negatif
  • Mencoba memberikan semangat kepada orang lain, tapi sering disertai dengan penyataan yang seolah meremehkan, misalnya mengucapkan kalimat “jangan menyerah, begitu saja kok tidak bisa”
  • Sering mengucapkan kalimat yang membandingkan diri dengan orang lain, contohnya, “kamu lebih beruntung, masih banyak orang yang lebih menderita dari kamu”
  • Melontarkan kalimat yang menyalahkan orang yang tertimpa masalah, misalnya ‘Coba, deh, lihat sisi positifnya. Lagi pula, ini salahmu juga, kan?”

Mungkin, mengucapkan kalimat positif dimaksudkan untuk menguatkan diri sendiri atau sebagai rasa simpati terhadap masalah yang sedang dialami orang lain. Namun, bukan berarti boleh terlalu positif hingga mengabaikan emosi negatif. Apa pun yang berlebihan itu tidak baik, begitu pula dengan sikap dan pikiran positif.

Sebagai manusia wajar saja apabila kamu merasakan marah, sedih, atau lagi gak semangat. Hidup yang kita jalani memang kadang terasa berat dan masalah yang kita hadapi juga akan selalu dating. Dengan datangnya masalah juga membawa kita menuju pada kedewasaan. Hal-hal yang tidak diinginkan juga kerap terjadi didalam kehidupan sehari-hari, maka dari itu kamu tidak perlu memaksa diri untuk selalu dalam mode positive vibe.

Toxic Positivity juga memiliki dampak yang buruk untuk kesehatan mentalmu loh, jadi seburuk apasih Toxic Positivity ini menurut satupersen.net?

  1. Membohongi diri sendiri

Kamu akan berusaha memupuk rasa bahagia dan bersikap positif yang semu, ketika ini dibiarkan kamu akan cepat atau lambat akan semakin memicu stress.

  1. Hubungan negatif dengan orang lain

Ketika kamu terus-menerus menjadi pendengar yang buruk dengan selalu memberikan saran-saran positif tanpa mengetahui akar permasalahan lawan bicaramu maka kamu akan cepat kehilangan kepercayaannya. Hubunganmu akan menjadi negatif dan kamu akan cepat ditinggalkan karena kamu dianggap toxic baginya.

  1. Mengisolasi diri

Dengan bersikap denial pada rasa negatif yang dirimu alami secara tidak sadar kamu akan kehilangan koneksi dan kontrol terhadap dirimu sendiri.

  1. Menimbulkan rasa tidak percaya diri

Berusaha membohongi diri sendiri membuat kamu akan merasa tidak percaya diri. Hal ini terjadi akibat perasaan malu yang timbul akibat toxic positivity yang kamu lakukan pada dirimu sendiri. Pelaku toxic positivity akan menyangkal emosi negatif yang ada pada dirinya di depan orang lain.

  1. Stress berkepanjangan

Pelaku toxic positivity dalam jangka panjang akan mengalami stress, hal ini terjadi akibat perasaan menyangkal emosi negatif yang ada pada dirinya menyebabkan buruknya pengelolaan stress yang ia miliki.

Supaya kamu dapat terhindar dari sikap toxic positivity dan dampak buruknya, dan juga tidak menjadi sumber toxic positivity untuk orang lain. Beberapa tips ini bisa kamu lakukan menurut hellosehat.com :

  1. Kelola emosi negative dengan tidak menyangkalnya tapi jangan sampai lepas kendali. Sebab, emosi negatif dapat menyebabkan stres jika dikendalikan. Akan tetapi, emosi tersebut juga dapat memberikan informasi penting yang dapat membawa perubahan yang bermanfaat dalam hidupmu.
  2. Tetap bersikap realistis tentang apa yang seharusnya dirasakan. Saat kamu menghadapi situasi yang membuat tertekan, wajar jika kamu merasa stres, khawatir, atau bahkan takut. Namun, jangan tenggelam pada situasi tersebut. kamu harus bangkit untuk mencari jalan keluar dari kondisi tersebut.
  3. Alih-alih menghindari emosi yang sulit, biarkan diri merasakannya. Mengekspresikan emosi ini akan jauh lebih baik ketimbang menghindarinya. Kamu boleh menangis, jika memang perlu menuangkan rasa sedih dan kecewa. Namun, setelahnya cobalah untuk menyingkirkan emosi tersebut secara pelan-pelan.
  4. Saat kamu mengalami kesulitan dalam hidup, ekspresikan emosi dengan cara yang produktif.

You may also like

Leave a Comment