INFOGRAFIK : Safety Reading, Start From Yourself!

by admin

Risky karina Putri/siswaindonesia.id

SiswaIndonesia.id, Malang – Menurut pasal 81 ayat 22 uu no 22 tahun 2009, syarat usia pemegang SIM C adalah 17 tahun. Hal ini tentunya sudah diketahui secara umum oleh setiap warga negara termasuk pelajar usia sekolah. Namun tak sedikit juga meski sudah mengetahui adanya pasal tersebut masih saja nekat untuk melanggarnya.

Syarat kelengkapan berkendara motor ada banyak sekali mulai dari memakai helm standart, memperhatikan rambu-rambu lalu lintas hingga melengkapi surat-surat berkendara seperti STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan) dan SIM (Surat Izin Mengemudi). Lantas bagaimana jika usia belum 17 tahun namun tetap berkendara motor?

“Sebenarnya naik angkutan umum lebih kami rekomendasikan untuk para pelajar yang belum punya SIM. Selain memang menghindari pelanggaran berkendara akibat belum memiliki SIM, ini juga dirasa lebih aman untuk seusia mereka,” terang Ipda M. Saikhu Kanit Dikyasa Polresta Malang.

Berdasarkan data yang kami peroleh dari Satlantas Polresta Malang, angka pelanggaran lalu lintas tahun ini sendiri dari Bulan Januari hingga November 2018, jumlah pelanggaran lalu lintas dari kalangan pelajar SMA sederajat mencapai 14.379 kasus. Angka yang cukup tinggi dan cukup untuk memberikan gambaran bagaimana usia SMA sering tidak mengindahkan peraturan berkendara yang benar.

“Banyak teman saya yang sering ketilang gitu karena tidak punya SIM, saya sendiri juga pernah kena tilang, sekitar bulan November lalu,” ujar Erliyana siswa SMAN 9 Malang.

Alasan beragam yang dilontarkan mengapa mereka tetap nekat naik motor sendiri adalah masalah efisiensi waktu dan dirasa lebih praktis. Apabila harus naik angkutan umum atau yang lainnya mereka cenderung merasa tidak nyaman, apalagi jika dikejar waktu untuk berangkat sekolah. Mereka jauh lebih memilih untuk naik motor sendiri karena lebih cepat dan lebih mudah bagi mereka.

“Orangtua saya lebih menyarankan saya naik motor sendiri, selain lebih hemat juga lebih efisien waktu, soalnya kalau naik angkot saya harus oper, kalau naik ojol juga biaya yang dikeluarkan lebih besar, jadi ya mending naik motor sendiri, Terus apalagi saya OSIS kalau habis pulang sekolah tidak langsung pulang dan harus kemana-mana dulu gitu,” terang Evan siswa SMAN 1 Malang.

Meskipun sudah mengetahui resiko yang di dapat ketika berkendara tanpa kelengkapan SIM, namun para siswa masih tetap melanggarnya. Tak jarang juga mereka melanggar bahkan lebih dari dua kali.

“Pernah juga ada siswa SMA melanggar sampai sudah tiga kali, saya panggil sama orangtuanya untuk kami berikan pengarahan agar tidak terus terulang lagi,” ujar salah satu anggota Satlantas Polresta Malang.

Peran orang tua, guru dan pihak berwajib harus saling bersinergi untuk mengatasi masalah ini. Orang tua diharapkan lebih mengawasi anak-anaknya agar tidak berkendara sendiri di usia mereka yang memang belum waktunya. (krn)

Reporter    : Risky Karina Putri

Editor         : Nada Nabila

You may also like

Leave a Comment