INFOGRAFIK : Apa Bedanya Keseharian Anak SMA di Kota dan di Desa?

by Siti Nurul Hikmah

SiswaIndonesia.id, Malang – Pendidikan yang ada di Indonesia memang belum sepenuhnya merata, banyak perbedaan antara pendidikan di kota-kota besar dengan pendidikan di pinggiran kota. Jika berbicara mengenai perbedaan, bukan hanya tentang fasilitasnya saja yang berbeda, namun ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang berbeda diantara keduanya. Contoh kecilnya yaitu perbedaan waktu yang dihabiskan oleh para pelajar.

Banyak yang bertanya-tanya, seperti apa kehidupan para pelajar SMA? Apakah mereka memiliki banyak waktu luang di luar jam sekolah dan dapat melakukan aktivitas positif lainnya? Pertanyaan tersebut tidak hanya menjadi pertanyaan bagi orangtua masing-masing saja, bahkan pertanyaan tersebut menjadi ide riset seorang peneliti dari Perancis, Jean-Marc de Grave. De Grave merupakan seorang dosen serta ketua peneliti di jurusan antropologi di Universitas Aix-Marseille, Perancis. Ia sudah melakukan banyak penelitian di Indonesia, khususnya dalam bidang pendidikan dan kebudayaan Jawa.

Pada kesempatannya De Grave melakukan penelitian terhadap dua SMA; yaitu SMAN 6 Yogyakarta yang berada di tengah kota, dan SMAN Pakem yang berjarak 20 KM dari pusat kota.  Dalam penelitian ini, ia mebutuhkan waktu kurang lebih selama dua tahun. Ia mengikuti anak-anak SMA selama sehari penuh di dalam dan luar sekolah. Berikut uraian dari hasil riset yang dilakukan oleh De Grave:

Siapa yang lebih lama berada di sekolah?

De Grave menyebutkan, pelajar di desa tinggal lebih lama di sekolah dibandingkan pelajar di kota. Pelajar di desa biasanya memiliki banyak kegiatan setelah sesi belajar dikelas usai. Alasan lainnya, biasanya sekolah yang berada dikota menutup gedung pada jam-jam tertentu. Di SMAN 6 Yogyakarta, semua murid diharuskan untuk keluar dari sekolah setelah pukul 16.00 sore. Mereka menilai jika muridnya dibiarkan terus berada di sekolah, dikuatirkan ada semacam insiden mengenai tawuran yang dilakukan oleh para murid. Selain itu, pelajar yang berada di desa biasanya memiliki banyak kegiatan setelah sesi pembelajaran di kelas selesai. Banyak dari mereka yang merupakan pengurus organisasi dan harus menyelesaikan banyak hal sebelum bisa pulang ke rumah.

 

Siapa yang memiliki lebih banyak waktu dengan keluarga?

Pelajar di desa memiliki lebih banyak waktu luang bersama keluarga di rumah dibandingkan pelajar kota. Selain karena nilai-nilai kebersamaan yang masih mereka pegang teguh, biasanya pelajar di desa jarang mengambil les tambahan. Sedangkan pelajar di kota, selain mengambil les usai jam sekola, mereka juga memilih pergi ke tempat lain seperti mall atau café. Mereka yang tinggal di kota biasanya memiliki kegiatan sendiri-sendiri. Entah jalan bersama teman atau pacar. Kesibukan tersebut membuat mereka jarang berbincang secara langsung dengan keluarga di rumah.

 

Siapa yang lebih terlibat dalam kegiatan di sekolah?

Pelajar di desa memiliki kegiatan sekolah yang mereka buat sendiri, seperti koperasi di mana mereka menjual makanan ringan hingga alat tulis. Kooperasi tersebut bukan hanya sebagai ajang pelajar untuk mencari kesibukan saja, tetapi mereka juga mendapatkan keuntungan bisnis dari kooperasi yang mereka jalankan. Sedangkan sekolah di kota, meski memeiliki kooperasi, tetapi tidak ada murid yang dilibatkan dalam pengelolaannya.

 

Siapa yang memiliki lebih banyak kesempatan untuk berkegiatan di luar sekolah?

Nyatanya, ada banyak asosiasi pemuda di desa. Mereka yang setelah sekolah tidak memiliki kegiatan bisa bergabung bersama asosiasi yang ada. Selain itu. Kegiatan yang berbau agama, tetapi frekuensinya tidak sebanyak dengan kegiatan yang ada di desa. Namun, kesempatan memiliki kegiatan di luar sekolah ini sebenarnya terjadi pada pelajar yang berada di kota. Hanya saja mereka yang di kota cenderung individualis dan memiliki kegiatan pribadi, membuat kesempatan tersebut kurang terlihat.

 

Siapa yang lebih memilih langsung bekerja setelah lulus?

Tidak seperti pelajar di kota, mereka yang tinggal di desa lebih senang bila bia bekerja setelah lulus. De Grave merasa banyak alasan yang mendasari keputusan mereka yang satu ini, salah satunya adalah lingkungan. Lihat bagaimana pendidikan di mata orang-orang yang tinggal di desa. Mungkin mereka memiliki pemikiran untuk bekerja karena kebanyakan orang di lingkungannya juga bekerja setelah lulus SMA. Sedangkan pelajar di kota lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan di tingkat universitas. Sekolah yang berada di tengah kota biasanya memiliki kerjasama di bidang pendidikan dengan beberapa universitas. Kesempatan tersebut belum tentu dimiliki oleh sekolah yang berada di pedesaan.

Meskipun penelitian ini sudah selesai dilakukan, tetapi De Grave mengatakan bahwa hasil penelitian ini tidak ditarik kesimpulan secara rata. Tentu karena ini merupakan penelitian kualitatif yang memfokuskan narasumber dan observasinya pada dua sekolah di Yogyajarta saja. Hasilnya bisa saja berbeda dengan sekolah lainnya di Indonesia.

You may also like

Leave a Comment