INFOGRAFIS-Indonesia Darurat Membaca

by Siti Nurul Hikmah

Siswaindonesia.com, Malang – Pandemi membuat kita terpaksa lebih lama berada di rumah saja. Meski tidak meganggur sepenuhnya, setidaknya banyak waktu luang yang bisa kamu manfaatkan untuk melakukan kegiatan positif seperti membaca buku. Selama pandemi, berapa banyak buku yang sudah kamu baca?

Membaca merupakan suatu kegiatan positif yang memberikan dampak besar, karena dengan membaca dapat memperluas pengetahuan, ilmu serta dapat membentuk sikap dan keterampilan seseorang. Pernah menderngar, bahwa bangsa yang hebat berasal dari bansa yang memiliki budaya baca yang kuat?

Namun sayangnya, tingkat literasi kita masih sangat rendah. Mengutip sumber dari perpustakaan kemendegri, bahwa hasil survey yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD) pada 2019 menyatakan bahwa, Indonesia menempati ranking 62 dari total 70 negara yang berkaitan dengan tingkat literasi. Indonesia berada di 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Rendahnya tingkat minat baca bangsa Indonesia disebabkan oleh banyak sebab, diantaranya :

  • Sulitnya akses buku yang berkualitas untuk penduduk di daerah terpencil
  • Kesalahan pada sistem Pendidikan, yang lebih terpaku pada nilai. Hal ini menyebabkan siswa lebih mementingkan mengejar nilai dari pada memahami isi dari pelajaran tersebut
  • Kurangnya kesadaran orang tua dan kurangnya dorongan lingkungan untuk menciptakan gerakan gemar membaca
  • Harga buku yang cukup mahal
  • Perkembangan teknologi yang pesat, membuat orang lebih tertarik untuk menikmati teknologi daripada membaca

Mengutip dari data databoks sumber data milik kementrian dan kebudayaan, ketersediaan dan kebutuhan perpustakaan di Indonesia sangat tidak seimbang. Ketersediaan perputakaan sekolah hanya sebanyak 121.187, sedangkan kebutuhannya sebesar 287.631. ketersediaan perpustakaan umum sebanyak 23.611, sedangkan kebutuhannya sebesar 91.191. dan yang terakhir ketersediaan perpustakaan khusus sebanyak 7.132 sedangakan kebutuhannya sebesar 384.633. Nilai ketimpangan ketersediaan perpustakaan ini sangat besar, disini peran pemerintah sangat berperan besar.

Lalu apa yang harus diupayakan untuk menanggulangi hal ini ?

  • Pemerintah pusah dan daerah harus dengan serius menanggulangi akses membaca, khususnya di daerah terpencil dan daerah yang rendah tingkat literasinya
  • Membentuk komunitas komunitas literasi. Dengan mengadakan kegiatan atau gerakan membaca
  • Orang tua punya andil besar di sini. Orang tua harus mencipkatakan lingkungan yang supportif untuk membaca, tidak hanya itu, orang tua juga perlu ikut serta untuk mencontohkan agar anak-anak tergerak dan ikut kebiasaan membaca
  • Orang lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial, dengan itu kita harus memanfaatkan untuk membuat kampanye gerakan membaca di berbagai media sosial

Namun, pada penelitian yang berbeda ditemukan bahwa tingkat minat baca masyarakat di Indonesia tidak serendah yang disebutkan oleh beberapa penelitian sebelumnya. Pada sebuah Jurnal Penelitian yang ditulis oleh Azmi Rizka Anisa, Ala Aprila Ipungkarti dan Kayla Nur Saffanah, disebutkan bahwa data temuannya menyatakan tingkat baca masyarakat Indonesia tidak serendah seperti yang sering disebutkan. Mengapa bisa hasil survei nya berbanding terbalik? Tentu saja banyak faktor yang memperngaruhi, diantaranya karena perbedaan durasi waktu penelitian serta perbedaan pada target audiennya.

You may also like

Leave a Comment