Hilangnya Sekolah Favorit

by admin

(sumber: google.com)

SiswaIndonesia.id, Malang – Pada musim pendaftaran siswa baru pada tahun 2017/2018, Kemendikbud membentuk aturan baru untuk cegah adanya sekolah favorit. Muhadjir Effendy, mentri pendidikan dan kebudayaan, menjelaskan jika kementriannya akan mulai menerapkan aturan sistem zonasi.

“Nanti kita akan menggunakan sistem zonasi atau sekolah pakai zona. Maka tidak boleh ada siswa di dalam zona itu yang tidak diterima, apapun alasannya. Apalagi pakai tes,” ujarnya di Sumatera Barat pada Senin (24/4/2017) seperti dilaporkan Antara. “Semua sekolah sekarang harus jadi favorit. Dengan cara zonasi itu dapat mengatasi timbulnya sekolah favorit,” tambahnya.

Namun sistem zonasi PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) 2018 mengalami kekacauan di sejumlah daerah. Pasalnya, sejumlah pemerintah daerah dianggap gagal menerapkan PPDB sesuai Permendikbud 14/2018. Seperti yang diungkapkan oleh Yuliani (43) tentang pengalamannya saat sang anak tidak diterima di sekolah terdekat meski dengan sistem zonasi.

“Pemerintah mengatakan, kurang dari 5 km otomatis akan diterima, tapi kenyataannya tidak. Padahal dari rumah (ke SMAN 8 Malang) tidak sampai 4 km,” ungkapnya.

Belum meratanya sarana dan prasarana di setiap sekolah membuat orang tua dan sang anak takut masuk ke sekolah yang kurang memadai. Penggunaan sistem zonasi untuk menghapus stigma sekolah favorit di masyarakat, menurut Yuliani terlalu rancu, karena dengan adanya julukan sekolah favorit adalah bentuk sebuah acuan.

“Stigma sekolah favorit menjadi acuan untuk kita mengacu prestasi. Jika tidak ada reward, untuk mengejar mimpi itu lebih lambat. Tapi jika ada reward, akan lebih terpacu, contoh kecilnya adalah masuk ke sekolah yang dianggap favorit,” terangnya.

Yuliani juga mengatakan jika stigma sekolah favorit itu berasal dari masyarakat. Berbeda dengan langkah pemerintah yang dulu menghapus sistem RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) yang sangat ia setujui karena dapat memicu kesenjangan sosial. Dalam penghapusan RSBI pemerintah memang perlu turun tangan, tetapi tidak dengan penghapuskan stigma sekolah favorit di masyarakat.

Ibu tangguh lulusan psikologi itu menyampaikan jika sebenarnya favorit tidak favoritnya suatu sekolah, itu kembali kepada sang anak. Bisa jadi sekolah yang dianggap tidak favorit adalah tempat terbaik untuk sang anak berkembang. Meski tidak begitu mempercayai sekolah favorit adalah sekolah yang terbaik, namun ia menyakini kekuatan ‘julukan’ sebuah sekolah bisa memotivasi sang anak untuk menjadi yang terbaik.

Ibu dua anak tersebut juga mempertanyakan eksistensi UN (Ujian Nasional) sebagai penilaian, jika zonasi memang diberlakukan, “Untuk apa mengejar nilai tinggi? Jika memang sistem zona diterapkan, nilai terendah (tetap) bisa masuk dong? Kehilangan acuan untuk menjadi yang terbaik, lebih baik bikin rumah di dekat sekolah yang diinginkan saja jika ingin diterima oleh sekolah.” (nad)

Penulis          : Nada Nabila

Editor            : Risky Karina Putri

You may also like

Leave a Comment