Bullying Dan Kesehatan Mental Pada Remaja

by Anisa Mahiswari

SiswaIndonesia.com, Malang – Kasus bullying atau perundungan masih menjadi persoalan yang sering terjadi dikalangan remaja. Meningkatnya kasus bullying di Indonesia setiap tahunnya membuat persoalan ini menjadi salah satu masalah social di Indonesia. Berbagai macam kejadian dan perilaku bullying sudah terjadi, mulai dari bullying secara verbal, fisik, hingga mental, bahkan di era social media saat ini bullying juga kerap terjadi pada platform tersebut. Aksi-aksi kecil seperti mendorong, merebut barang, mengolok atau mengejek orang lain bisa jadi terkesan biasa saja bahkan terkadang oleh pelaku dianggap bercanda namun tanpa disadari jika korban merasa terintimidasi maka perilaku tersebut juga bisa dikatakan sebagai praktik bullying.

Menurut Jurnal Penelitian yang ditulis oleh Ela Zain Zakiyah  , Muhammad Fedryansyah  , Arie Surya Gutama Bullying adalah bentuk-bentuk perilaku kekerasan di mana terjadi pemaksaan secara psikologis ataupun fisik terhadap seseorang atau sekelompok orang yang lebih “lemah” oleh seseorang atau sekelompok orang. Pelaku bullying yang biasa disebut bully bisa seseorang, bisa juga sekelompok orang, dan ia atau mereka mempersepsikan dirinya memiliki kekuasaan untuk melakukan apa saja terhadap korbannya.

Bullying merupakan sebuah hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan ke dalam perilaku yang menyebabkan seseorang menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau sekelompok yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang, dan dilakukan dengan perasaan senang.

Perilaku bullying membawa banyak dampak negative bagi korban maupun pelaku, terutama dalam perkembangan mental dan psikologisnya. Disekolah peran antara guru, orang tua, dan siswa perlu diciptakan, agar kasus bullying tidak terjadi. Namun apabila sudah terjadi lingkungan yang supportif perlu diciptakan agar korban merasa nyaman untuk mencari bantuan kepada lingkungannya.

Adapun Kategori perilaku bullying sesuai dengan kelompoknya, dilansir dari jurnal penelitian yang ditulis oleh Hanifatur Rizqi :

  1. Perilaku intimidasi fisik kontak secara langsung: perilaku ini termasuk seperti menjambak, menggigit, memukul, menedang, mencubit, mengunci seseorang dalam ruangan, mencakar, memeras atau merebut barang orang lain dan merusak barang orang lain.

 

  1. Perilaku intimidasi verbal kontak secara langsung: perilaku ini diantaranya adalah sarkasme, mengejek atau mencela, mencaci dan memaki, mempermalukan, mengancam, mengganggu, merendahkan, memanggil dengan sebutan (namecalling) yang tidak disukai , mengintimidasi, dan menyebarkan berita bohong.

 

  1. Perilaku intimidasi non-verbal secara langsung: seperti memberikan pandangan mata dengan sinis, memberikan ekspresi wajah merendahkan dan menjulurkan lidah, mencemooh, mengejek, atau mengancam; semua intimiasi non verbal ini biasanya diikuti dengan tindakan bullying yang dilakukan secara lisan (verbal) dan tindakan fisik.

 

  1. . Intimidasi non-verbal tidak langsung: perilaku ini contohnya adalah melakukan manipulasi, menuduh seseorang melakukan tindakan yang tidak dilakukan, mendiamkan seseorang, sengaja mengabaikan dan mengucilkan seseorang, meneror dengan mengirim surat kaleng.

 

  1. Sexual Harrasment / Pelecehan seksual: perilaku ini seperti melakukan cat calling (siulan, panggilan dengan maksud menggoda) kepada lawan jenis. Perilaku ini terkadang dikategorikan sebagai perilaku agresi fisik atau verbal.

 

Selain dari beberapa kategori tersebut, terdapat aspek lain yang termasuk pada kategori bullying, seperti misal panggilan tertentu yang tidak menyenangkan yang pelaku berikan kepada target bullyig, menggoda dengan menggunakan kalimat rayuan yang dimaksudkan untuk mengganggu korban (lebih sering terjadi pada perempuan), selain itu bullying juga bisa berupa tindakan mendorong tubuh, menyerang dan melakukan pemukulan kepada korban dengan niatan ingin melukai, perampasan harta dan benda korban dengan pemaksaan dan seringnya diikuti dengan tindakan fisik yang mengganggu, mengirimkan surat kaleng yang berisi pesan mengancam kepada target bullying.

Dalam suatu hasil studi (2003) menunjukkan bahwa bullying dapat berpengaruh terhadap konsentrasi saat siswa belajar di sekolah dan hal ini menyebabkan siswa korban bullying memiliki kecenderungan untuk menghindari segala aktivitas di sekolah baik itu proses belajar dikelas ataupun kegiatan tambahan dalam bentuk apapun dikarenakan memiliki perasaan khawatir, cemas dan ketakutan yang berlebih terhadap perilaku bullying yang diterimanya. Tindakan bullying yang dialami oleh seorang siswa secara berkepanjangan, lambat laun akan mempengaruhi self-esteem yang bersangkutan, self-esteem yang terganggu akan menyebabkan harga diri rendah sehingga memunculkan perilaku menarik diri secara sosial, isolasi sosia yang dilakukan oleh korban bullying akan menjadikan menjadikan siswa rentan mengalami stress dan berkembang menjadi depresi, dan dalam kasus ekstrim akan meningkatkan kemungkinan terjadina tindakan bunuh diri.

Hal ini sesuai dengan penelitian Yushendra (2015), yang mengatakan bahwa tindakan bullying yang diterima dapat memicu remaja korban bullying untuk berbuat nekat, seperti membunh atau melalukan tindakan melukai diri bahkan mengakhiri hidup.

Dayakisni (2013) menjelaskan bahwa korban bullying akan mengalami kerugian, baik berupa kerugian secara fisikal, psikis atau mental, dan finansial. Perilaku bullying bertentangan dengan hak asasi manusia, karena akibat dari tindakan bullying yang diterima korban bullying sangat mungkin mengalami penderitaan secara rohani dan jasmani.

 

Banyak factor yang menyebabkan terjadinya bullying, memilih teman dan lingkungan menjadi hal yang penting agar kamu terhindar. Karena perilaku bullying tidak terjadi secara individu saja namun dapat dilakukan secara berkelompok. Sehingga Upaya mencegah dan mengatasi bullying perlu dilakukan terlebih kepada sekolah agar terus mengawasi peserta didik dan membimbing mereka agar tidak terjadi ketimpangan social dalam pendidikan.

You may also like

Leave a Comment