Bimbingan Konseling, Pentingnya Memberikan Pendidikan Psikologi Untuk Siswa

by admin

(sumber: google.com)

SiswaIndonesia.id, Malang – “Jika kalian terlambat masuk sekolah, ke ruang BK!”

“Jika kalian banyak membolos, ke ruang BK!”

“Ruang BK adalah ruang hukuman”

“Siapapun yang keluar dari ruang BK sepertinya anak yang bermasalah”

Berikut adalah beberapa tanggapan tentang bagaimana image dari ruang BK (Bimbingan dan Konseling) di mata beberapa siswa pada umumnya. Mungkin di sekolah kalian ruang BK juga memiliki peran yang sama menakutkan. Namun, benarkah ruang BK adalah ruang yang menyeramkan dan patut untuk dihindari?

Sofa Amalia sebagai pakar psikologi menegaskan jika siswa perlu mendapatkan pendidikan psikologi, “perlu, bukan psikologi secara umum, tetapi muatan yang lebih relate dengan remaja pada umumnya. Seperti psikologi perkembangan, dimana siswa lebih belajar tentang keadaan sosial seseorang, mengenal emosi, dan bagaimana menjadi remaja yang lebih mengenal dirinya sendiri,” jelasnya pada tim siswaindonesia.

Dalam memberikan wawasan seputar psikologi siswa, peran konselor-konselor sekolah sangat penting dan tidak bisa dianggap remeh.  Kesalahan yang terjadi dalam dunia sekolah adalah ruang BK memiliki kesan yang menyeramkan dimata para siswanya. Seolah ruang BK adalah ruang hukuman, dan siapapun yang di panggil dan keluar dari ruang BK ada murid yang bermasalah.

Dalam kasus ini, dosen Psikolog Universitas Muhammadiyah Malang tersebut menyarankan kepada para konselor-konselor sekolah untuk mengenalkan dulu kepada siswa-siswa baru terkait dengan layanan BK seperti apa, sebelum melakukan proses kurikulum terkait dengan bimbingan konseling.

Dengan lebih mengenal layanan BK itu seperti apa, para siswa akan menjadi lebih paham. Layanan BK sejatinya bisa jadi tempat para siswa bertukar cerita, seperti saat sang anak memiliki konflik dengan temannya.

“Konselor juga bisa menambahkan program-program yang menarik seperti talkshow terkait dengan bagaimana menjadi remaja yang tangguh,” ujarnya dengan jenaka.

Di harapkan, dengan menariknya program yang diberikan oleh para konselor, bisa membuat orang mengerti sehingga stigma jika ruang BK hanya di datangi saat terlambat masuk sekolah, bolos sekolah, atau BK hanya untuk kelas 12 yang akan lulus sekolah tidak ada lagi. Sehingga konselor sekolah dapat secara optimal melaksanakan tugasnya untuk memberikan wawasan psikologi kepada siswa terkait dengan membangun simpati dan peka terhadap lingkungan. (nad)

Penulis            : Nada Nabila

Editor              : Risky Karina Putri

You may also like

Leave a Comment