Anak Milenial, Bijak Bermedia Sosial

by Siti Nurul Hikmah

SiswaIndonesia.com, Malang – Saat ini kebutuhan sehari-hari tidak hanya sandang dan pangan saja, namun ada kebutuhan baru yaitu bermedia sosial di sela-sela nya. Sudah menjadi kebiasaan, saat pertama kali bangun tidur di pagi hari, alih-alih segera bangun dari tempat tidur, kita malah asik buka hp dan scroll timeline media sosial.

Memang menyenangkan jika sudah bermain media sosial, apa saja bisa dilakukan. Mempermudah komunikasi dengan teman yang memiliki jarak cukup jauh, berkenalan dengan orang baru, dapat mencari dan berbagi informasi baru serta mencari hiburan pun bisa dilakukan dengan media sosial. Sebanyak apapun manfaat dari bermain media sosial, tentu tidak dapat melupakan dampak buruknya juga. Seperti yang dilansir oleh Kompas.com, 5 dampak buruk yang terjadi saat bermedia sosial secara berlebihan, diantaranya :

  • Merasa gelisah

Sebagian besar remaja mengalami tekanan untuk menulis sesuatu yang sempurna, mengunggah konten terbaik. Selain itum tidak sedikit remaja yang mendapat komentar negatif tentang dirinya di media sosial, hal ini bisa berakibat mereka mengalami kecemasan dan kegelisahan berlebih.

  • Kurang tidur

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam journal of youth, pengguna media sosial dapat mempengaruhi pola tidur anak remaja. Keasyikan berselancar di media sosial, seringkali membuat kita lupa akan waktu, tidak sadar sudah larut malam. perilaku ini yang membuat kita kurang jam tidur, yang bisa mempengaruhi kita salah satunya depresi.

  • Perundungan

Mayoritas remaja pernah menjadi korban cyberbullying atau perundungan siber. Pelaku perundungan biasanya memanfatkan teknologi, salah satunya dengan media sosial, untuk melecehkan, menghina dan melakukan hal negatif lainnya kepada korban. Anak-anak yang menjadi korban bullying  ini cenderung mengalami depresi, kecemasan, dan bahkan bisa berakibat untuk bunuh diri.

  • Iri hati

Di media sosial ini, banyak orang yang hanya menampilkan sisi terbaiknya, sangat sedikit dari mereka yang menampilkan sisi terburuk dari dirinya. ketika orang lain menampilkan dirinya dengan sangat baik di internet, hal itu memberikan kesan seolah hidupnya lebih menarik dibanding orang lain. Seringkali hal tersebut menimbulkan rasa iri hati dari pengguna media sosial lain.

  • Kurang komunikasi

Meskipun media sosial adalah tempat untuk berinteraksi dengan orang lain, namun bukan berarti sama rasanya ketika berkomunikasi langsung. Sayangnya perilaku kita yang sibuk dengan media sosial masing-masing mengakibatkan kita lupa akan kehidupan sosial di luar ponsel. Hal tersebut membuat berkurangnya kita berkomunikasi secara langsung. Bahkan seringkali kita menjadi jauh dengan orang sekitar. mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat adalah fenomena yang sedang terjadi saat ini.

Meski begitu, bukan berarti sosial media hanya memberikan dampak buruk saja. Beberapa dampak positif juga bisa didapatkan dari bermain media sosial. Seperti yang dijelaskan pada Jurnal Penelitian yang ditulis oleh Wilga Secsio Ratsja Putri R, Nunung Nuurwati dan Meilanny Budiarti, yang menyebutkan bahwa dengan bermain sosial media dapat memberikan dampak positif, diantaranya :

  • Tempat promosi yang baik dan murah
  • Dapat memperluas jaringan dalam pertemanan
  • Merupakan salah satu media komunikasi yang mudah
  • Dapat digunakan sebagai mencari sumber informasi yang bermanfaat dan mudah
  • Dapat digunakan sebagai tempat berbagi informasi, hiburan dan lain-lain

 

Media sosial memang menawarkan banyak kemudahan untuk kita, namun sebagai remaja yang bijak, tentu kita harus pintar memilah mana konten yang perlu kita nikmati dan mana konten yang harus kita lewati. Karena diluar sana, masih banyak konten-konten negatif yang bisa berakibat buruk, salah satunya untuk kesehatan mental kita. Dilansir dari hellosehat.com, ada beberapa tips bijak bermain media sosial, diantaranya :

  1. Pilih konten yang ingin dibaca

Di media sosial manapun, selalu ada berita-berita yang bernuansa negatif, mulai dari berita kejahatan hingga perdebatan isu politik yang memusingkan. Jika hal-hal negatif sering kita serap, tentu berdampak pada kesehatan mental kita, memicu stress dan tanpa sadar memunculkan rasa cemas berlebihan (paranoid).

Maka, solusi yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan fitur mute pada topik tertentu yang menurut kamu tidak baik untuk dilihat atau dibaca.

  1. Follow hanya teman terdekat atau akun-akun yang terpercaya.

Dengan hanya mengikuti orang-orang terdekat saja, secara tidak langsung kita sudah menyaring konten yang lewat di linimasa kita, dan bertujuan untuk membatasi penyebaran isu-isu hoax dan konten kebencian untuk sampai pada kita.

Lalu bagaimana jika bahkan orang terdekat kita pun masih menyebarkan berita hoax? Kita sebagai teman yang saling mengenal bisa mengingatkan dengan baik, jika diterima. Namun tidak sedikit orang-orang seperti ini alih-alih sadar, justru mereka akan berkilah bahwa siapapun bebas membagikan informasi apa saja. Lalu apa yang harus kita lakukan? Sebaiknya, kita melakukan mute, atau bahkan unfolloworang tersebut. tidak apa-apa jika harus seperti itu, karena kesehatan mental kita tetaplah yang terpenting. Memproteksi diri dari konten-konten negatif adalah kewajiban diri kita sendiri.

  1. Berhati-hati menyebarkan berita

Setelah menyaring konten yang masuk pada timeline kita, maka selanjutnya adalah membenahi diri kita agar tidak mudah menyebarkan konten-konten negatif yang bisa menimbulkan berdebatan. Sebagai remaja milenial, sudah seharusnya kita bijak bermain media sosial, memilah mana saja yang perlu dan tidak perlu untuk disebarluaskan di platform kita. Ingat jejak digital kejam, kita posting saat ini mungkin belum berdampak langsung, namun tidak ada yang bisa menjamin, bahwa suatu saat bisa saja menjadi boomerang kita di kemudian hari.

  1. Batasi penggunaan media sosial

Berlama-lama scroll timeline Facebook, Twitter, Instagram bahkan Tik-tok memang menyenangkan. Namun ingat, kebiasaan ini bisa berkaibat buruk salah satunya adalah merasa kecanduan. Jika sudah seperti itu, kita akan merasa susah beranjak dari kegiatan scroll-scroll timeline. Akibatnya, akan banyak pekerjaan yang seharusnya kita kerjakan malah terbengkalai karena kita asyik scroll. Solusinya adalah dengan membatasi diri kita agar tidak terlalu lama bermain media sosial, salah satunya dengan menetapkan batas maksimal bermain medsos, paling lama 1-2 jam dalam sehari.

Memang benar, media sosial memudahkan kita, namun harus ingat akan beberapa dampak buruknya seperti diatas. Kita selaku remaja masa kini, harus lebih bijak bermain media sosial. (hkmh)

 

Penulis : Siti Nurul Hikmah

Editor : Anisa Mahiswari

 

 

You may also like

Leave a Comment